ECONOMY

Hingga Akhir 2019, AFPI: Prediksi Pinjaman Fintech Capai Rp 80 Triliun

Indonesiaplus.id – Hingga akhir 2019 diprediksi pinjaman Peer-to-Peer (P2P) lending bakal menyentuh Rp 80 triliun.

Kepala Bidang Kelembagaan dan Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede optimistis pertumbuhan pinjaman financial technology (fintech) akan tumbuh signifikan.

“Terus tumbuh meskipun jumlah pemain fintech tidak bertambah hingga akhir 2019. AFPI memproyeksi nilai pinjaman dapat menembus Rp80 triliun pada tahun ini, ” ujar Tumbur di Jakarta, Senin (28/10/2019).

Dari 127 penyelenggara, kata Tumbur, masing-masing sudah punya strategi akuisisi nasabah baru. Dengan target ini tidak sebatas peminjam. Ke depan, tantangan meyakinkan pemberi pinjaman.

“Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), P2P lending mencatatkan penyaluran pinjaman senilai Rp60,41 triliun hingga kuartal III/2019, melonjak 166,51 persen dibandingkan dengan Desember 2018, yang senilai Rp22,67 triliun, ” katanya.

Berdasarkan angka itu merupakan akumulasi sejak 2017. Sehingga, sepanjang 2019 pinjaman fintech mencapai sekitar Rp60 triliun.

Outstanding mencapai Rp10,18 triliun. Pinjaman itu telah disalurkan kepada 14,36 juta orang di seluruh Indonesia dengan persentase borrower laki-laki mencapai 51,47 persen, atau lebih besar dibandingkan dengan borrower perempuan yang porsinya 48,41 persen.

“Jadi, saat ini ada 127 perusahaan P2P lending terdaftar di OJK. Sebanyak 13 di antaranya telah mengantongi surat izin usaha dari lembaga tersebut, ” ungkapnya.

Capaian di kuartal III/2019 melampaui target 2019 yang dipatok Rp40 triliun. Kondisi ini didorong oleh meningkatnya kepercayaan masyarakat baik dari kalangan peminjam (borrower) maupun pemberi pinjaman (lender).

“Ada peran dari penyelenggara yang baru tidak kami nafikan, tapi kontribusi mereka tidak terlalu besar, jadi kontribusi terbesar dari pemain lama, ” katanya.

Namun, dengan adanya peningkatan jumlah izin usaha dan partisipasi asosiasi dalam hal sosialisasi itulah yang memberikan dampak baik.

Dari sisi tantangan industri ke depan justru bukan meningkatkan jumlah lender, tetapi meningkatkan kepercayaan lender.

“Setiap penyelenggara dituntut terus meningkatkan kapasitas dari sisi manajemen risiko, elektronik Know Your Customer (E-KYC), sehingga pendapatan lender optimal sesuai profil risikonya, ” pungkasnya.[sal]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close