HUMANITIES

Kemah Guru Perbatasan 2016, Internalisasi Gerakan Cinta Tanah Air

Indonesiaplus.id – Peran strategis menuntut guru untuk kreatif dan inovatif dalam mengajarkan sejarah kepada anak didik. Sebab, guru akan menanamkan kecintaan generasi mendatang kepada Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika.

“Menjadi guru hebat perlu wawasan yang cukup. Salah satunya, dengan memiliki bacaan dan referensi yang saat ini banyak tersedia dengan berbagi media, ” ujar Triana Wulandari, Direktur Sejarah, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada pembukaan Kemah Guru di Wilayah Perbatasan 2016 di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Kamis (25/8/2016) malam.

Bicara sejarah, kata Triana, harus diakui memang ada kontroversi di dalamnya. Namun tidak boleh terjebak, melainkan dengan referensi yang ada harus memunculkan ide-ide segar dan kreatifitas, baik terkait sejarah bangsa maupun kearifan lokal.

“Berbekal referensi yang akurat dan kredibel itulah para guru bisa mengkritik sejarah, tapi tidak kehilangan spirit sebagai agen perubahan atau agent of change untuk menyiapkan generasi yang cinta Indonesia, ” tandasnya.

Kemah Kawasan merupakan salah satu upaya mengumpulkan para guru di wilayah perbatasan, untuk saling berbagi pengalaman dengan segala keunikan, keberagaman, serta Kebhinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Melalui acara yang digelar ini, para guru dari setiap provinsi bisa berbagi pengalaman mengajar, mencari solusi, serta ada rekomendasi untuk ditindaklanjuti bahwa sejarah tidak sekedar pelajaran melainkan upaya internalisasi Gerakan Cinta Tanah Air (Genta), sekaligus menjadi jembatan mewujudkan kebhinekaan, ” ucapnya.[Hmd]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close