Guru TK di Bandung Hidupkan Permainan Tradisional di Tengah Era Digital
Indonesiaplus.id – Di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia dini, seorang guru taman kanak-kanak di Kota Bandung mengembangkan metode pembelajaran berbasis permainan tradisional. Upaya ini dilakukan untuk menyeimbangkan perkembangan teknologi dengan kebutuhan interaksi sosial anak.
Yatty Nurhayati, yang akrab disapa Bunda Ati, saat ini menjabat sebagai kepala sekaligus guru di TKQ Al Hanifah, Bandung. Ia menerapkan permainan tradisional sebagai bagian dari proses belajar mengajar bagi anak usia dini.
Dalam kegiatan Pelatihan Permainan Tradisional bagi guru Pendidikan Al-Qur’an se-Kecamatan Kiaracondong di Aula Masjid Al Fitrah, Kamis (23/4), Yatty menyampaikan bahwa permainan memiliki peran penting dalam perkembangan anak.
“Anak-anak belajar paling baik ketika mereka bermain. Dari permainan tradisional, mereka belajar kerja sama, empati, dan kreativitas,” ujarnya.
Yatty telah menerapkan pendekatan ini sejak 2007. Konsistensinya dalam mengangkat permainan tradisional sempat mendapat perhatian nasional melalui film dokumenter berjudul Hong yang diproduksi dalam ajang Eagle Awards bertema “Cerdas Indonesiaku” dan ditayangkan oleh Metro TV pada 2010.
Dalam film tersebut, Yatty yang saat itu menjabat sebagai Kepala TK Harapan Bunda PT Pindad Bandung, menampilkan praktik pembelajaran melalui kaulinan barudak Sunda sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari di sekolah.
Ia mengintegrasikan berbagai jenis permainan tradisional ke dalam kurikulum, baik permainan kelompok maupun aktivitas motorik. Pendekatan ini, menurutnya, tidak hanya meningkatkan aktivitas fisik anak, tetapi juga mendorong perkembangan kemampuan sosial.
Sejumlah orang tua murid, kata Yatty, memberikan respons positif terhadap metode tersebut. Mereka menilai anak menjadi lebih mandiri, mampu berinteraksi dengan baik, serta tidak bergantung pada gawai.
Di tengah arus digitalisasi, Yatty menilai pemanfaatan kearifan lokal dapat menjadi alternatif dalam pendidikan anak usia dini. Selain sebagai metode pembelajaran, langkah ini juga dinilai berkontribusi dalam pelestarian budaya.
Upaya yang dilakukan Yatty menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu bergantung pada teknologi, melainkan dapat dikembangkan melalui pendekatan yang relevan dengan nilai budaya dan kebutuhan perkembangan anak.[ama]





