ECONOMY

Tiket Masih Mahal, Diprediksi Penumpang Angkutan Udara Sepi

Jumat, 3 Mei 2019

Indonesiaplus.id – Pada masa mudik lebaran 2019 jumlah penumpang angkutan udara dipredikasi akan berkurang. Pasalnya tiket pesawat terbang masih mahal.

“Tahun lalu angkutan udara kira-kira tumbuhnya 4 persen dan kalau tahun ini sekitar 10 persen pindah ke angkutan lain, seperti laut dan darat juta kereta api untuk menampungnya,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri dan Keputusan Menteri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dalam PM 20/2019 tersebut, tarif batas bawah yang semula 30 persen dari tarif batas atas menjadi 35 persen dari tarif batas atas.

“Kami mendorong angkutan laut untuk Jakarta-Semarang ditingkatkan. Sekarang baru 1 kapal bisa mengangkut 5.000-10.000 penumpang, kalau minatnya melampaui, karena sekarang ini yang ingin menggunakan kapal laut 60 persen, bis 80 persen, kereta api sudah 80 persen, kalau ini meningkat dapat ditambahkan,” ungkapnya.

Mantan Dirut Angkasa Pura II ini mengimbau agar Menteri BUMN Rini Soemarno bisa menghimbau agar maskapai pelat merah, Garuda Indonesia memberikan harga khusus menjelang Lebaran.

“Saya imbau pada Ibu Menteri BUMN meminta Garuda memberi harga khusus selama Lebaran. Kalau Garuda turun, diikuti maskapai lain, tapi saya sedang mengkaji dengan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha)/Ombudsman apakah tarif batas atas ini bisa diturunkan. kalau saya memiliki kewenangan akan saya turunkan,” katanya.

Alasan Budi karena ada kecenderungan masyarakat menginginkan penurunan tarif pesawat. “Saya rasanya punya kewenangan untuk menurunkan itu, di UU ada, tapi saya tidak ingin ada satu aturan tidak ‘govern’ (sesuai tata kelola), karenanya saya perlu konsultasi, kalau ada klarifikasi tentang tata kelola itu saya akan lakukan sebelum Lebaran,”tandasnya.

Memang konsultasi itu diperlukan karena tarif batas atas sudah tiga tahun tidak berubah padahal seharusnya setiap dua tahun batas atas berubah naik.

“Untuk tarif batas atas sudah 3 tahun tidak berubah, kalau 3 tahun tidak berubah kok tiba tiba saya turunin? Ada dua kutub, pertama kalau dilihat dari komponennya harus naik, tetapi kalau untuk kepentingan masyarakat saya mungkin punya kewenangan. Kan logikanya tiga tahun, kalau kita ikutin inflasi saja tentu naik, komponen-komponen juga naik. jadi itu dasarnya saya konsultasikan, ini ‘team work’ tidak boleh bertindak sendiri,” urainya.

Menteri BUMN Rini Soemarno yang dimintai pendapatnya soal penurunan batas atas tersebut mengaku bahwa Garuda dapat menetapkan tarif sepanjang tidak melanggar aturan yang ditetapkan Kemenhub.

“Kita lihatnya begini. Sekarang batasnya di mana? Selama BUMN, Garuda tidak lewati batas yang ditentukan oleh Kemenhub ya harusnya normal-normal saja,”pungkasnya.[sal]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close