ECONOMY

Resmob Metro Jaya: Sindikat Bobol 64 Bank Dengan Skimming

Senin, 19 Maret 2018

Indonesiaplus.id – Jaringan peretas data Anjungan Tunai Mandiri (ATM) atau teknik skimming yang melibatkan warga negara Rumania, Hungaria, dan Indonesia telah membobol 64 bank di sejumlah negara, sehingga 13 bank domestik dan 51 bank luar negeri.

Kepala Unit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Rovan Richard Mahenu menyatakan, bahwa pembobolan rekening nasabah Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, membekuk lima pelaku terkait pembobolan rekening nasabah BRI.

Mereka adalah Caitanovici Andrean Stepan, Raul Kalai alias Lucian Meagu, Ionel Robert Lupu, Ferenc Hugyec, serta seorang WNI Milah Karmilah.

Polisi meringkus pelaku di empat lokasi, masing-masing di DE PARK Cluster Kayu Putih Blok AB 6 Nomor 3 Serpong Tangerang, Banten; Bohemia Vilage 1 Nomor 57 Serpong, Tangerang; Hotel Grand Serpong, Tangerang; dan Hotel De Max Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Petugas menyita berbagai alat untuk mencuri data nasabah bank, seperti deepskimmer yang sudah jadi, encorder dan tiga unit spycam. Berdasarkan pemeriksaan sementara, sindikat pembobol saldo rekening nasabah itu telah beroperasi sejak Juli 2017.

Teknik skimming adalah pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal. Skimming salah satu jenis penipuan yang masuk ke dalam metode phishing.

Para pelaku menyasar nasabah bank dengan menyimpan alat deepskimmer pada mesin ATM di wilayah Jakarta, Bandung, Tangerang, Yogyakarta, dan Denpasar Bali.

Sebelumnya, puluhan nasabah BRI Unit Ngadiluwih mengeluhkan saldo rekeningnya berkurang secara misterius. Kepala Cabang BRI Kediri Dadi Kusnadi mengatakan, nasabah mengadukan kehilangan saldo rekening antara Rp 2 juta-Rp 3 juta.

Namun, Kepala Polsek Ngadiluwih AKP Shokib Dimyati sempat menyebut ada yang melaporkan kehilangan sebesar Rp 5 juta. Kepolisian Daerah Jawa Timur mencatat, hingga Rabu (14/3) ada 87 nasabah BRI yang melapor saldo rekeningnya berkurang secara misterius.

Menurut Direktur Hubungan Kelembagaan PT BRI (Persero) Tbk Sis Apik Wijayanto mengatakan, dana nasabah yang hilang akibat pencurian data kartu debit di Ngadiluwih kurang dari Rp1 miliar.
Sis Apik menegaskan, kasus pembobolan dana nasabah itu hanya terjadi di Ngadiluwih. Belum ada laporan kejadian serupa di daerah lain. Sis Apik mengatakan, BRI rutin memeriksa mesin ATM, tapi pelaku selalu saja bisa memasang alat skimming.

“Mereka pasang menunggu kami lengah, kadang malam hari. Kami sudah antisipasi dan sudah ada pengamanan. Kalau memasangnya di tengah malam, yang kami lihat di CCTV,” kata dia di Jakarta, Minggu (18/3/2018).

Sekretaris BRI Bambang Tribaroto mengatakan, untuk kasus di Ngadiluwih, BRI telah menyelesaikan investigasi internal. Seluruh dana nasabah yang hilang telah dikembalikan secara penuh.

Pihak BRI akan mempercepat migrasi kartu debit atau ATM dari teknologi pita magnetik (magnetic stripe) ke teknologi chip sesuai arahan Bank Indonesia. “Tahun ini 30 persen, kami akan percepat lagi,” katanya.

Dia meyakini teknologi chip bisa mengurangi kasus pencurian data kartu debit dengan teknik skimming dibandingkan dengan teknologi pita magnetik. Juga, ia mengimbau nasabah untuk tidak memberikan informasi personal identitfication number (PIN) kepada orang lain.

Informasi yang sering digali oleh pelaku penipuan adalah identitas, nama ibu kandung, dan nomor telepon. “Waspada ada telepon-telepon yang bukan dari BRI atau mengaku dari BRI. BRI selama ini nasabahnya paling banyak, 62 juta,” tandasnya.[Sap]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close