TECHNOLOGY

Ada Sensor Pro-Palestina, Diungkap Mantan Karyawan Facebook

Indonesiaplus.id – Ada kebijakan perusahaan Facebook terkait penyensoran unggahan warga Palestina dan para aktivis.

Hal itu diungkapkan mantan karyawan Facebook, Ashraf Zeitoon saat menjabat sebagai kepala kebijakan Facebook untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (2014-2017). Instagram dan Facebook sengaja dan sistematis membungkam suara Palestina.

Ashraf menunjukkan unggahan warga Palestina dihapus di Instagram sejak serangan Israel di Gaza pada 10 Mei lalu. Salah satu insiden itu muncul beberapa pekan lalu.

Saat itu, pencipta merek Palestina, Aminah Musa memutuskan membantu anak-anak Palestina dengan meluncurkan kampanye Instagram yang mengumpulkan makanan dan persediaan penting lainnya. Namun, tiba-tiba fitur pesan langsung Musa diblokir oleh Instagram.

“Pada saat tengah menjawab pesan langsung, muncuk kalimat ‘Fitur ini tidak tersedia karena perlindungan komunitas kami,” ucap Musa yang tinggal di Chicago.

Pemblokiran diberlakukan pada 15 Mei, hari yang dikenal bagi warga Palestina sebagai Hari Nakba atau bencana yang mengacu pengusiran ratusan ribu warga Palestina dari tanah mereka oleh kaum zionis.

Lalu, Instagram memulihkan akses Paliroots ke pesan langsung pada hari yang sama ketika tentara Israel dan Hamas menyetujui gencatan senjata.

“Saya mengonfirmasi ini bukan pertama kalinya Facebook melakukan tindakan seperti itu untuk menurunkan konten yang diyakini tim kebijakan kontennya sebagai spam menghasut atau tidak memenuhi syarat,” kata Zeitoon.

Menurut Zeitoon keluhan tentang pengurangan yang signifikan dalam laporan pemboman di Gaza dan Yerusalem mungkin terkait dengan jangkauan pelambatan yang disengaja dan menyembunyikan tagar.

Baru-baru ini, Facebook mengaku telah melakukan kesalahan dalam menghapus konten tentang Masjid Al-Aqsa yang menunjukkan serangan pasukan polisi Israel terhadap warga Palestina.

“Kami tahu ada kesalahan membatasi sementara konten untuk dilihat di laman tagar Masjid Al Aqsa. Kami sangat menyesal kepada semua orang yang merasa ini adalah bentuk pembungkaman suara yang disengaja. Ini tidak pernah menjadi niat kami dan kami juga tidak pernah ingin membungkam komunitas atau sudut pandang tertentu,” kata juru bicara perusahaan.

Kebijakan Facebook dirancang untuk memberikan suara kepada semua orang dan menerapkan secara setara.
“Kami memiliki tim khusus yang mencakup penutur bahasa Arab dan Ibrani sehingga bisa memantau dengan cermat situasi di lapangan. Ini berfokus untuk memastikan kami menghapus konten berbahaya sambil mengatasi kesalahan penegakan hukum secepat mungkin,” tambahnya.

Untuk menarik perhatian warganet, pengguna Instagram mengunggah video dengan tagar #AlAqsa atau dalam bahasa Arab # الاقصى # الأقصى. Namun, unggahan mereka dihapus atau disembunyikan dari hasil pencarian.
Beberapa pemberitahuan mengungkapkan Instagram menghapus unggahan karena dikaitkan dengan organisasi yang melakukan kekerasan atau berbahaya.

Ada kasus lain, seorang karyawan melihat Instagram menghapus infografik yang menggambarkan situasi di Al-Aqsa karena hubungannya dengan kekerasan atau organisasi teroris.

Usai karyawan mengajukan keluhan dengan menulis pesan internal, akhirnya, konten tersebut berhasil dipulihkan setelah mengajukan keluhan.[nan]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close