TECHNOLOGY

Harga RAM Melonjak, Penjualan Motherboard Global Anjlok hingga 50 Persen

Indonesiaplus.id – Harga komponen utama komputer personal (PC), khususnya RAM untuk laptop dan desktop, mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada penurunan penjualan perangkat keras dan menjadi tekanan serius bagi pedagang komputer di berbagai negara.

Laporan terbaru menyebutkan penjualan motherboard global turun hingga 40–50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut dipicu melonjaknya harga RAM, terutama DDR5, yang dinilai sudah berada di luar kendali pasar konsumen.

Media teknologi Jepang, Gazlog, melaporkan harga kit RAM DDR5 berkapasitas 64 GB kini bahkan lebih mahal dibandingkan konsol PlayStation 5 maupun kartu grafis RTX 5070. Kondisi ini mendorong sejumlah toko komputer mencabut harga tetap RAM DDR5 dari rak pajang dan menggantinya dengan harga mengikuti pergerakan pasar harian.

Situs teknologi TechSpot, dikutip Senin (19/1/2026), menyebutkan konsumen yang ingin meningkatkan performa PC dari sistem DDR4 atau generasi sebelumnya tidak memiliki alternatif selain beralih ke DDR5 dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Akibat lonjakan harga tersebut, produsen motherboard seperti Asus, MSI, dan Gigabyte dilaporkan menurunkan target penjualan secara signifikan. Gazlog mencatat mahalnya RAM menjadi faktor utama anjloknya permintaan motherboard dan diperkirakan akan diikuti penurunan penjualan prosesor dalam waktu dekat.

Sumber utama kenaikan harga RAM berasal dari lonjakan permintaan DRAM oleh pusat data kecerdasan buatan (AI). Industri data center memborong kapasitas produksi untuk mendukung pembangunan infrastruktur komputasi berskala besar, sehingga menyisakan pasokan terbatas bagi pasar konsumen.

Kondisi tersebut memicu reaksi di kalangan pengguna PC. Di platform Reddit, sejumlah gamer menyerukan boikot pembelian RAM sebagai bentuk protes terhadap tingginya harga. Namun, analis menilai langkah tersebut tidak akan berdampak signifikan karena mayoritas pendapatan produsen memori berasal dari sektor enterprise, industri, dan pusat data, bukan dari konsumen rumahan.

Krisis RAM juga mulai merembet ke sektor lain. AMD dilaporkan berencana menaikkan harga kartu grafis hingga 10 persen. Sementara itu, AMD dan Nvidia disebut tengah mempertimbangkan penghentian produksi beberapa model GPU kelas bawah dan menengah guna menjaga margin keuntungan.[nan]

Related Articles

Back to top button