TECHNOLOGY

Fosil Embrio Ungkap Nenek Moyang Mamalia Bertelur, Studi Terbaru Perkuat Bukti Evolusi

Indonesiaplus.id — Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS One mengungkap bahwa nenek moyang mamalia diketahui berkembang biak dengan cara bertelur. Temuan ini didasarkan pada analisis fosil embrio Lystrosaurus yang ditemukan di Afrika Selatan.

Fosil tersebut diperkirakan berusia sekitar 250 juta tahun dan berasal dari periode setelah Kepunahan Massal Permian, ketika sebagian besar kehidupan di Bumi musnah. Spesies Lystrosaurus dikenal sebagai salah satu yang berhasil bertahan dari peristiwa tersebut.

Tim peneliti menggunakan teknologi tomografi komputer beresolusi tinggi serta sinar-X sinkrotron untuk memindai struktur fosil. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa rahang embrio belum sepenuhnya menyatu—ciri yang saat ini hanya ditemukan pada embrio burung dan kura-kura.

Penulis utama studi, Julien Benoit, menyatakan bahwa temuan ini menjadi bukti kuat bahwa embrio tersebut berkembang di dalam telur saat mati.

“Ini adalah pertama kalinya kita dapat menyimpulkan dengan tingkat keyakinan tinggi bahwa nenek moyang mamalia seperti Lystrosaurus bertelur,” ujarnya.

Penelitian juga mengungkap bahwa telur Lystrosaurus memiliki cangkang lunak menyerupai kulit, berbeda dengan telur bercangkang keras yang baru muncul sekitar 50 juta tahun kemudian dalam sejarah evolusi.

Selain itu, karakteristik telur yang relatif besar dan tahan terhadap kehilangan air dinilai menjadi salah satu faktor yang mendukung kelangsungan hidup spesies ini di lingkungan ekstrem yang kering dan panas. Lystrosaurus diduga hidup di wilayah gurun dan mampu bertahan dengan menggali tanah untuk menghindari kondisi lingkungan yang keras.

Temuan ini juga memberikan wawasan baru terkait evolusi laktasi pada mamalia. Para peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan menghasilkan susu kemungkinan berkembang setelah periode Trias awal, antara 252 hingga 201 juta tahun lalu.

Hipotesis lain yang diperkuat dalam studi ini menyebutkan bahwa fungsi awal laktasi bukan untuk memberi makan anak, melainkan untuk menjaga kelembapan dan melindungi telur.

Peneliti paleontologi dari Universitas Edinburgh, Steve Brusatte, yang tidak terlibat dalam studi tersebut, menyebut fosil embrio ini sebagai temuan penting dalam memahami evolusi mamalia.

“Fosil ini menunjukkan bahwa nenek moyang mamalia masih bereproduksi seperti reptil, sebelum akhirnya berevolusi menjadi melahirkan dan menyusui,” ujarnya.

Penelitian lanjutan direncanakan untuk mengkaji lebih dalam evolusi reproduksi mamalia, termasuk perkembangan kemampuan melahirkan (viviparitas) dan menyusui, yang menjadi ciri khas kelompok hewan tersebut saat ini.[nan]

Related Articles

Back to top button