HUMANITIES

Peneliti UI Gelar Literasi Tangkal Infodemik, Saat Pandemi Covid-19

Indonesiaplus.id – Ada tantangan di tengah-tengah pandemi Covid-19, “virus” lain yaitu infodemik, di mana penyebaran berita – berita bohong yang bisa mendorong masyarakat berperilaku beresiko, menurunkan kepercayaan kepada otoritas kesehatan serta membuat masyarakat menjadi terlalu percaya diri.

Seorang peneliti dan pengajar di Program Vokasi UI, Devie Rahmawati menggelar Program Pengabdian Masyarakat Memforward Manfaat berjudul, “Literasi Tangkal Infodemik: Gerakan Mencari Solusi di Tengah Pandemik,” yang digelar di Pusgiwa UI Depok, Jumat (14/8/2020).

Kegiatan tersebut dihadiri 40 peserta terdiri dari mahasiswa, masyarakat depok, pengajar dan juga media.Juga, pertemuan dengan memperhatikan protokol kesehatan, dimana dilakukan pengecekan suhu, penggunaan masker dan pemberian handsanitizer.

Kegiatan digelar dengan prinsip 3A : Udara, jarak dan lama. Pintu ruangan terbuka, dimana peserta dalam posisi berjarak serta dilakukan hanya selama 2 jam.

Adapun perbandingan yang digunakan Devie, yaitu studi di Amerika Serikat ditemukan bahwa sekitar 13% masyarakat Amerika yang percaya bahwa Covid itu hoax; 49% itu rekayasa manusia. Fakta obyektif ini menunjukkan “virus infodemik” ini juga menjangkiti masyarat maju.

Studi di barat tentang respon masyarakat di tengah – tengah krisis (bencana alam, kesehatan, perna dan lainnya) menunjukkan bahwa biasanya terbentuk empat pola masyarakat yaitu patuh, pengikut, petualangan dan pemberontak.

Jumlah masyarakat yang masuk dalam kategori pemberontak, yang tidak mau mematuhi atau menolak upaya-upaya menuju perbaikan dari krisis sekitar 10-20% paling tinggi. Tentu saja, jumlah ini tidak dapat dipandang sederhana.

Walaupun belum ada penelitian mendalam tentang respon masyarakat terkait covid yang masuk dalam kategori pemberontak, bila diasumsikan terdapat 10% saja dari 270 juta masyarakat Indonesia yang tidak taat pada protokol kesehatan, maka berpotensi ada sekitar 27 juta orang yang akan dengan percaya diri melakukan aktivitas beresiko di tengah pandemi ini.

Ada warga yang masuk kategori “pemberontak” ini, dapat berasal dari individu dengan latar belakang suku, ras, agama, pendidikan dan ekonomi yang beragam.

Selain itu, masih mengambil contoh di Amerika Serikat, ada seorang penulis intelektual ternama, lulusan universitas ternama, juga mempercayai bahwa Covid ialah hoax. Artinya virus infodemik ini dapat menerpa siapapun.

Kemudian, mengapa infodemik dapat menyebar dengan luas? Dari rangkuman studi-studi yang dilakukan, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut:

Banjir informasi. Berdasarkan data Go Globe, dalam satu menit, setiap harinya, terdapat 98.000 cuitan twitter, 1.500 unggahan blog, 168 juta surel, 600 video baru di YouTube, 70 domain terdaftar, 695.000 status fb dan sebagainya. Hal ini yang membuat setiap individu mengalami kesulitan untuk melakukan filter terhadap informasi yang mereka konsumsi.

Semangat kepahlawanan. Manusia memiliki dorongan agar dapat menjadi “pahlawan” bagi manusia lainnya. Sehingga ada banyak individu yang dengan mudah menyebarkan informasi perihal vaksin corona misalnya, karena ingin menjadi pahlawan bagi individu lainnya, murni ingin menolong, bukan karena motif ekonomi atau politik.

Termasuk, sebagai manusia memiliki kecenderungan untuk berbagai keresahan/ketakutan/kecemasan kepada orang lain. Ketika mereka menerima informasi yang menakutkan, tanpa pikir panjang, mereka akan membagikan informasi tersebut, agar mereka tidak merasa resah/takut/cemas sendirian.

Berbekal dengan kecendrungan individu yang hanya mau mendengar serta mencari informasi yang sesuai dengan keinginan atau keyakinannya, membuat mereka menjadi tertutup dari potensi untuk menetima informasi lain, yang bisa jadi sebuah informasi yang telah terverifikasi.

Bagi individu yang gemar berbagi info, tanpa melakukan verifikasi terhadap info yang dibagikan, juga terjadi karena banyak individu memang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman atas sebuah informasi yang diperoleh. Hal yang wajar kalau mereka kemudian menyebarkan informasi yang tidak tepat.

Insentif Penghargaan yang ditawarkan oleh teknologi berupa likes, retweets, telah mendorong manusia menjadi berkompetisi untuk mendapatkan pujian berupa “jempol” tersebut.

Ditambah karakter berita hoaks yang sensational, membuat individu menyebarkannya berpeluang mendapatkan penghargaan dari individu lain, karena miming berita yang disebarkan memiliki daya pikat tersendiri.

Individu dalam merespon sebuah informasi lebih sering menggunakan intuisi dibandingkan intelegensia. Mengapa? Karena manusia selalu mengharapkan jawaban yang cepat dari setiap persoalan yang dihadapi.

Tidak hanya itu, kecanggihan teknologi seperti deep fakes, yang mampu merubah – rubs video seseorang menjadi sesuai yang diinginkan, membuat semakin sulit bagi manusia memilah-milah mana informasi yang benar atau tidak.

Untuk insentif ekonomi berupa keuntungan finansial dari mekanisme click bait, membuat ada individu yang menjadikan produksi berita hoaks sebagai sandaran hidupnya.

Lantas bagaimana mengatasi tantangan ini?

Agar mampu meyakinkan individu yang sudah terpapar oleh berita bohong, tidak dapat argumen-argumen yang logis. Tetapi dapat dilakukan dengan menampilkam fakta berupa visual.

Secara biologis tubuh lebih mampu menerima informasi berupa visual dengan cepat. Studi akademik menunjukkan bahwa gambar-gambar yang menarik dan selalu ditampilkan secara berulang-ulang akan lebih Judah diingat dan dipercaya.

Dengan membangun mental “kepo” yang positif. Selalu mempertanyakan setiap informasi yang diterima, seperti : Emang iya? Dapat darimana? Kata Siapa? Lihat Sendirikah?

Membangun hubungan yang positif dengan orang-orang yang telah terpapar berita bohong. Karena ketika hubungan sudah positif ditandai dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, akan mudah bagi kita mengkomunikasikan kepada individu bahwa informasi yang diterimanya tidak benar.

Pendekatan komunikasi dialogis bukan repressiv dengan memonopoli dan menghakimi. Sampaikan yang sebenarnya banyak sekali informasi, sehingga dapat saling bertukar informasi.

Namun, bagi mereka yang sudah terpapar tidak hanya membaca informasi yang mereka percayai, melainkan akan mendapatkan alternatif pemikiran.

Kita harus memperlihatkan ketertarikan terhadap pendapat mereka, sebelum kita memasukkan pendapat kita kepada mereka.[mor]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close