TECHNOLOGY

Aplikasi TikTok Diam-diam Kumpulkan Data Anak, Buat Apa?

Indonesiaplus.id – Saat pandemi Covid-19, TikTok sudah menjadi salah satu aplikasi berbagi video paling populer di AS, baik pengguna iOS maupun Android.

Juga, TikTok menjadi sangat populer bagi anak-anak yang terjebak di rumah. Mereka banyak yang beralih ke aplikasi video pendek.

Menurut laman Phone Arena dengan aplikasi TikTok, anak-anak bisa membuat video komedi, musik, dan video berorientasi pada tarian. Sejak aplikasi sangat populer, ada kekhawatiran dari politisi di AS entang sepak terjang dari induk aplikasi, ByteDance.

ByteDance merupakan perusahaan berbasis di China dan seperti Huawei bahwa TikTok digunakan secara diam-diam mengumpulkan data dari konsumen dan perusahaan AS. Lalu data-data tersebut dikirimkan ke Beijing.

Awalnya aplikasi ini dibuat di China pada 2016 yang dikenal sebagai Douyin. TikTok dibuat di perangkat iOS dan Android di luar China setahun kemudian dan bagi pengguna server yang berbeda.

Memasuki pasar AS setelah ByteDance bergabung dengan musical.ly pada 2018. Namun, merger itu tidak pernah diperiksa oleh Komite Investasi Asing di Amerika Serikat (CFIUS) seperti semua akuisisi perusahaan AS oleh perusahaan asing lainnya.

Padsa November lalu, Senator Chuck Schumer (D-NY) dan Tom Cotton (R-AR) mengirim surat kepada direktur intelijen nasional yang meminta TikTok menjadi subjek penyelidikan keamanan nasional.

Aplikasi TikTok diduga telah melanggar keputusan persetujuan yang ditandatangani oleh perusahaan dan FTC. Anggota parlemen AS pun meminta FTC menggelar penyelidikan terhadap TikTok.

Menurut Reuters empat senator AS telah mengirim surat ke FTC dan memaksa badan pengawas menyelidiki tuduhan, terkait TikTok melanggar perjanjian persetujuan 2019 yang seharusnya melindungi privasi anak-anak.

Dalam perjanjian persetujuan disebutkan, TikTok setuju mencatat video yang dibuat oleh pengguna di bawah 13. Namun, video tidak pernah dihapus meninggalkan aplikasi yang melanggar ketentuan perjanjian.

Anggota parlemen menunjukkan TikTok gagal memberikan “pemberitahuan langsung” kepada orangtua mengenai praktik datanya sebelum mengumpulkan informasi tentang anak-anak yang menggunakan aplikasinya.

Di bawah Undang-Undang Perlindungan Privasi Daring Anak-Anak (COPPA) AS, TikTok seharusnya memberikan tautan di berandanya ke kebijakan privasi perusahaan.

Kiriman surat kepada FTC ditandatangani oleh Senator Demokrat Ed Markey -seorang penulis COPPA- dan Richard Blumenthal. Penandatanganan juga dilakukan oleh Senator Republik Josh Hawley dan Marsha Blackburn.

Nama pertama adalah kritikus keras terhadap China dan media sosial. Surat pernyataan itu menyatakan, “Dihadapkan dengan bukti kuat bahwa platform media sosial yang sangat populer ini secara terang-terangan mencemooh aturan privasi AS yang mengikat, FTC harus bergerak dengan cepat untuk meluncurkan penyelidikan dan secara paksa meminta pelanggar bertanggung jawab.”

Adapun surat lainnya yang dikirim ke FTC dikirim oleh 14 anggota Demokrat di Komite Energi dan Perdagangan AS untuk meminta penyelidikan TikTok.

Dua Republikan yang menjadi anggota komite yang sama menulis surat langsung kepada Zhang Yiming, pendiri dan kepala eksekutif pemilik TikTok ByteDance mencari informasi tentang dugaan hubungannya dengan Pemerintah China, dan bagaimana mengumpulkan informasi tentang anak-anak.

Sedangkan, TikTok menanggapi dengan mengirim email dan mengatakan, “Perusahaan mengambil masalah keselamatan dengan serius untuk semua pengguna dan kami terus memperkuat perlindungan dan memperkenalkan langkah-langkah baru untuk melindungi kaum muda di aplikasi.”[was]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close