Perang Bintang, Adu Strategi Mantan Panglima TNI di Pilpres 2019

Jumat, 24 Agustus 2018
Indonesiaplus.id – Calon terkuat ketua tim pemenangan pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno di pilpres 2019 adalah anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Djoko Santoso.
Hal itu disepakati PAN, Presiden PKS Sohibul pun ikut sepakat terhadap penunjukan nama Djoko Santoso sebagai ketua tim pemenangan.
“Tapi usulan dari Pak Prabowo sudah ada pak Djoko Santoso. Kita juga sudah kenal Pak Djoko ya Insya Allah kita sangat oke dengan beliau,” ujar Sohibul usai menghadiri milad PAN di Kantor DPP PAN, Senopati, Jakarta, Kamis (23/8/2018).
Namun perlu digelar pertemuan formal dengan mitra koalisi untuk menetapkan ketua tim pemenangan pasangan Prabowo – Sandiaga. Dalam beberapa hari ke depan akan ada pertemuan antarpimpinan partai untuk membicarakan hal tersebut.
“Iya, secara prinsip kami tidak masalah dengan Pak Djoko tapi kan nanti harus dibicarakan secara resmi di forum antar pimpinan partai koalisi mudah mudahan dua hari ini (bertemu),” katanya.
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syariefuddin Hasan mengungkapkan hal yang sama. Menurut Syarif Partai Demokrat siap mendukung Djoko Santoso menjadi ketua tim pemenangan. “Pokoknya kalau memang Djoko Santoso ya kita dukung,” ujarnya.
Syariefuddin mengaku Partai Demokrat belum melangsungkan pertemuan dengan partai koalisi lantaran Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tengah berada di luar kota.
Ia memperkirakan pertemuan akan digelar dalam waktu dekat. “Mungkin dalam minggu depan akan ada pertemuan,” tandasnya.
Sebelumnya, pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin menilai, diusulkannya Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso sebagai ketua tim pemenangan capres Prabowo Subianto karena latar belakangnya di militer. Ia mengatakan, Djoko Santoso dinilai ahli strategi.
“Tentu saja, karena latar belakang militer Djoko Santoso yang sudah sampai dengan jenderal penuh, sudah sampai panglima TNI, sudah ahli strategi. Cuma kan strategi perang kalau ini kan strategi politik. Walaupun tidak sama persis, tapi basis teorinya samalah kira-kira,” ujarnya.
Kemungkinan Prabowo menunjuk Djoko Santoso juga karena adanya nama Jenderal Moeldoko di kubu capres pejawat Joko Widodo (Jokowi). Kubu Prabowo menganggap Djoko dapat mengimbangi Moeldoko dengan latar belakang militernya yang lebih senior.
“Saya kira mungkin karena kubu penantang ini, khususnya Prabowo, sudah mengintip bahwa di kubu pejawat itu juga akan memasang Jenderal Moeldoko sebagai bagian dari tim pemenangan bisa ketua bisa bukan,” tandasnya.
Said menilai, akan ada celah di kubu Prabowo jika tidak bisa mengimbangi Moeldoko. “Kalau Jenderal Moeldoko dipasang lantas kemudian di kubu penantang (Prabowo) itu tidak ada jenderal yang dipasang, itu bukan satu angle yang baik karena itu akan menjadi celah di kubu Prabowo,” pungkasnya.[Mus]





