POLITICS

Isu Polisi Taliban di KPK, Hehamahua: Itu Jelas Kerjaan Pihak Komunis

Indonesiaplus.id – Isu radikalisme atau polisi taliban di KPK dilancarkan oleh pihak yang tidak ingin kenyamanannya terganggu.

“Jadi isu tersebut jelas dilakukan salah satu bentuk corruptors fight back yang tidak ingin diganggu kenyamanan dan keleluasaan mereka dalam merampok keuangan negara,” ujar mantan penasihat KPK Abdullah Hehamahua, Selasa (17/9/2019).

Pemunculan isu itu, kata Abdullah, akibat ulah pihak yang berpaham komunis dan semua tahu yang bermain di isu ini, siapa lagi kalau bukan komunis.

“Dua ciri utama komunis di mana-mana di dunia ini, yaitu melakukan adu domba di masyarakat serta benci terhadap ajaran agama, khususnya agama Islam,” tandasnya.

Sejarah telah membuktikan PKI di Indonesia sangat benci terhadap pancasilais sejati, yakni mereka yang konsekuen melaksanakan sila-sila yang ada di Pancasila.

“Misalnya, sila pertama setiap waktu shalat kecuali Subuh akan terdengar adzan di seluruh ruangan di KPK. Otomatis semua pegawai muslim menuju mushalla untuk melaksanakan shalat berjamaah,” katanya.

Selain itu, ada pengajian rutin dua kali sepekan, bahkan di hari jumat didatangkan pendeta dari luar untuk menyampaikan santapan rohani ke pegawai nasrani. Itulah pegawai KPK yang Pancasilais sejati.

Ketua KPK Agus Rahardjo melihat isu polisi taliban di KPK sebagai upaya untuk mendiskreditkan KPK. Untuk membuktikannya, ia mengundang pihak-pihak yang hendak melakukan penelitian tentang hal tersebut di KPK.

“Kami undang orang melakukan penelitian mengenai KPK. Sama sekali sebenarnya isu itu tujuannya adalah untuk mendiskreditkan KPK. Jadi, saya silakan kalau mau melakukan penelitian,” tandas Agus di Gedung KPK, Jakarta, Senin (16/9/2019).

Menurut Agus, orang-orang yang sudah lama bekerja dengan KPK pasti mengetahui seperti apa dalamnya KPK. Sama sekali tidak ada polisi taliban di lembaga antirasuah tersebut.

Salah satu bukti lain, di dalam surat pengunduran diri rekannya sesama komisoner KPK, Saut Situmorang, tersampaikan, setiap Jumat di gedung KPK ada kebaktian. Itu dihadiri oleh umat Kristiani yang bekerja di sana.

“Jelas sudah, hari Jumat ada yang Jumatan di sini lalu ada juga di lantai tiga kebaktian. Jadi di mana talibannya? Kalau Anda melihat surat Pak Saut apa itu cermin taliban? Sama sekali jauh,” pungkasnya.[mus]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close