ECONOMY

Investor Abaikan Naiknya Imbal hasil Obligasi AS, Harga Emas Global Naik

Indonesiaplus.id – Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis (25/3/2021) pagi WIB, harga emas menguat sekaligus menghentikan penurunan dua hari beruntun.

Saat para investor mengabaikan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar, karena logam safe-haven menarik dukungan dari seruan berulang Ketua Federal Reserve (Fed) Jerome Powell untuk menjaga suku bunga rendah mendekati nol.

Untuk kontrak emas harga paling aktif untuk pengiriman April di divisi COMEX New York Exchange, terdongkrak USD8,10 atau 0,47% menjadi ditutup pada USD1.733,20 per ounce. Namun, sehari sebelumnya, Selasa (23/3/2021), emas berjangka anjlok USD13 atau 0,75% menjadi USD1.725,10.

Emas berjangka tergerus 3,6 dolar AS atau 0,21 persen menjadi 1.738,10 dolar AS pada Senin (22/3/2021), usia terangkat 9,2 dolar AS atau 0,53 persen menjadi 1.741,70 dolar AS pada Jumat (19/3/2021), lalu menguat 5,40 dolar AS atau 0,31 persen menjadi 1.732,50 dolar AS pada Kamis (18/3/2021).

Menurut “The Fed kendati fakta dapat melihat beberapa inflasi lebih tinggi, tampak akan melewatinya sehingga akhirnya berarti dapat melihat lonjakan inflasi dan Fed tetap tidak terlibat ada beberapa faktor yang membantu emas di sini,” tutur Kepala Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek.

Menurut Ketua Fed Powell kepada anggota parlemen, Selasa (23/3/2021) dia memperkirakan ada beberapa inflasi tetapi akan menjadi “tidak terlalu besar atau persisten.

“Pihak Bank sentral AS berjanji akan mempertahankan suku bunga berlabuh mendekati nol dalam pertemuan kebijakannya minggu lalu, ” ungkapnya.

Untuk keuntungan emas meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan dan dolar terus meningkat. Diprediksi Dolar lebih kuat membuat memegang emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

“Emas bisa naik ke level 1.900 dolar AS dan dolar terus menguat, tidak mungkin melemah dalam waktu dekat karena penguncian pandemi di Eropa dan potensi kinerja yang lebih baik dari AS, jika dibandingkan ekonomi negara lainnya, tetap menjadi hambatan untuk emas, ” tandas Melek.

Hasil lebih tinggi juga menantang status emas sebagai lindung nilai inflasi, karena hal itu diterjemahkan ke dalam peluang kerugian yang lebih tinggi memegang komoditas yang tidak memberikan imbal hasil.

“Diprediksi harga emas tidak mungkin bergerak keluar dari kisaran 1.700-1.750 dolar AS hingga akhir tahun, saat pertumbuhan dan inflasi kemungkinan terhenti karena investor cenderung menyukai aset dan komoditas yang mengikuti inflasi lebih tinggi sampai saat itu, ” terang Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, di Chicago.

Untuk logam mulia lainnya, seperti perak dengan pengiriman Mei naik 0,4 sen atau 0,02 persen ditutup pada 25,231 dolar AS per ounce. Sedangkan untuk Platinum pengiriman April naik 5,60 dolar AS atau 0,48 persen menjadi ditutup pada 1.180,20 dolar AS per ounce.[tat]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close