Menghina PS ‘Jenderal Kardus’ dan Mahar Politik, Kenapa Andi Arief Jadi Merasa Terancam?

Sabtu, 25 Agustus 2018
Indonesiaplus.id – Sikap Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Andi Arief yang mengaku diancam oleh partai politik disayangkan oleh Direktur Pencapresan DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suhud Alynudin.
Sebagai mantan aktivis sepatutnya Andi tak gentar menghadapi ancaman demi penegakan hukum. “Kalau iya ada ancaman ada aparat keamanan, insya Allah aman. Kan dia aktivis, masa diancam gitu doang takut,” ujar Suhud, Sabtu (25/8/2018).
Diketahui Andi merupakan salah satu aktivis Reformasi 1998. Ia menjadi salah satu dari sembilan aktivis pro demokrasi yang sempat diculik, tapi kemudian dilepaskan.
Menurut Suhud, jika memang Andi ingin menegakkan hukum harus konsekuen dengan pernyataan yang pernah dibuatnya mengenai mahar politik. Sebab, Andi bilang PKS dan PAN sebagai partai menerima mahar dari bakal calon presiden (cawapres) Sandiaga Uno.
“Jadi kasihan sama PAN dan PKS. Kita gak mau komen lebih jauhlah. Ya dibuktikan saja, tidak perlu bicara macam-macam, kalau memang ada bukti,” tandasnya.
Sempat acda rencana PKS membawa kasus itu ke jalur hukum. Tapi Suhud menegaskan PKS telah menyerahkan langkah-langkah selanjutnya ke tim hukum PKS. “Saya kurang tahu perkembanganya seperti apa, sudah dilaporkan atau belum,” ungkapnya.
Suhud mengklaim, pernyataan Andi tak memengaruhi kesolidan partai koalisi pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Pernyataan resmi dari Partai Demokrat sudah jelas, bahwa pernyataan Andi tidak ada kaitan dengan institusi partai. “Kalau koalisi Insya Allah solid lah sejauh ini,” katanya.
Sebelumnya, Andi Arief mengaku ketakutan atas ancaman yang diterimanya. Andi menyebut mendapat intimidasi dari pihak tertentu. “Kalau sangat diperlukan saya akan meminta perlindungan pada kepolisian,” tulis Andi Arief dalam keterangannya, Jumat (24/8/2018).
Ia mengaku mengalami ancaman oleh salah satu partai politik. Bentuk ancamannya berupa intimidasi yang akan dilakukan oleh etnis tertentu yang telah disuruh oleh ketua salah satu partai.
“Salah satu ketua DPD Partai Politik di Jakarta yang mengorder etnis tertentu untuk mengintimidasi saya, tentu saya khawatir,” tulis Andi.
Ancaman dan intimidasi yang diterimanya, membuat Andi mengurungkan niat untuk memenuhi panggilan dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). “Sejak dulu saya paling takut menghadapi ancaman fisik ini. Karena itu lebih baik saya menghindar,” tulisnya.[Mus]





