HUMANITIES

Dirjen: Perjuangan Tokoh Perempuan Diakui Sejak Awal Kemerdekaan

Senin, 7 Agustus 2017

Indonesiaplus.id – Sejak awal sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, peran perempuan sudah terlibat aktif dalam membangun bangsa. Tidak heran, sederet nama tokoh perempuan telah tercatat sebagai pemimpin di masanya.

“Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Demikian Bung Karno pernah mengatakan, “ ujar Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam sambutan pembukaan Pameran Sejarah “Visualisasi Ekspresi Pahlawan dan Tokoh Perempuan Eksplorasi Teknik Gutha Tamarin Dalam Media Kain Sutra, 7-21 Agustus 2017 di Gedung C Galeri Nasional Indonesia, Senin (7/8/2017).

Pahlawan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara adalah insan-insan yang mengorbankan jiwa raganya melalui tindakan dan karya nyata dalam merebut, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan.

Sebagai upaya menanamkan nilai-nilai sejarah tidak harus selalu dengan pendekatan tulisan, naskah maupun arsip. Melainkan bisa juga dengan media pameran visual yang bisa dimaknai sebagai pendekatan history of images.

“Melalui pendekatan history of images bisa diwujudkan berbagai karya visual yang sarat akan spirit kesejarahan, ” ujar Direktur Sejarah, Triana Wulandari.

Pameran sebagai bagian dari program penguatan Pendidikan Karakter berbasis Sejarah yang merupakan spirit dari butir nawacita melalui gerakan nasional revolusi mental.

Direktorat Sejarah bekerjasama dengan Perempuan Pendidik Seni Indonesia dari Komunitas 22 lbu menginisiasi Pameran Sejarah “Visualisasi Ekspresi Pahlawan dan Tokoh Perempuan”.

Membangun kesadaran nilai-nilai sejarah sebagai penguatan kebangsaan dan nasionalisme tidak saja dalam bentuk tekstual. Tapi juga bisa disajikan dalam berbagai bentuk, seperti film, komik, aplikasi digital, elektronik, sosio-drama, acara, lawatan, serta ekspedisi.
“Dengan visualisasi ekspresi teknik Gutha Tamarin dalam kain sutra dan mengangkat pahlawan nasional dan tokoh perempuan Indonesia, “ katanya.

Menghadirkan lukisan 12 pahlawan nasional, 16 tokoh pejuang pergerakan, serta 6 tokoh inspirasi. Pemilihan berdasarkan pertimbangan keterwakilan daerah dari seluruh Indonesia yang beragam, pahlawan nasional, tokoh pergerakan serta perjuangan Indonesia.

Pameran sejarah dikuratori Citra Smara Dewi dengan menampilkan 36 karya sejarah visual yang melibatkan 34 perupa. Sekaligus, pendidik mulai dari guru TK, SMP, SMU/SMK hingga Perguruan Tinggi, seperti DKI Jakarta, Bandung, Banten serta Tangerang.

Karya memiliki beragam ekspresi, mulai pendekatan dekoratif hingga sentuhan kubisme. Hal menarik adalah penggunaan Teknik Gutha Tamarin, yaitu pengembangan teknik batik menggunakan bahan dasar berupa biji buah asam yang telah dihaluskan.

“Bubuk asam dihaluskan lalu dicampur air secukupnya serta sedikit lernak nabati atau margarin agar menjadi sejenis pasta. Fungsi pasta sebagai pengganti perintang cairan lilin yang biasa digunakan dalam teknik batik tradisonal. Perbedaannya terletak pada tidak digunakan kompor sehingga sering disebut teknik “batik dirigin”, ucapnya.

Teknik gutha tamarin dipadukan dengan goresan kuas yang terdapat pada konsep mixed media antara teknik batik dan lukis dalam kain sutra. Memadukan berbagai teknik dalam karya seni rupa (mixed media) merupakan upaya membangun kreativitas di kalangan para seniman.

Tantangan berat berekspresi dengan gutha tamarin dan goresan kuas dalam kain sutra, yiatu menghadirkan kekuatan karakter wajah tokoh sehingga resiko kegagalan relatif tinggi. Namun, dengan esungguhan hati, komitmen, motivasi, serta sikap rendah hati menerima masukan dari peserta lainnya selama proses berkarya merupakan cerminan proses pembelajaran karakter yang patut diapresiasi.[Mor]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close