90 Tahun Pertemuan Dua Tokoh Pendidikan Indonesia dan India

Jumat, 15 September 2017
Indonesiaplus.id – Pertemuan dua tokoh pendidikan Indonesia dan India, Ki Hadjar Dewantara dan Rabindranath Tagore telah menumbuhkan dasar pemikiran yang kemudian hari mampu mendorong kemerdekaan kedua bangsa.
Tanggal 21 September 1927, Rabindranath Tagore mengunjungi Yogyakarta dan bertemu dengan Ki Hadjar Dewantara di Tamansiswa. Sebelumnya pada tanggal 26-28 Agustus 1927, ia berkunjung ke Bali dan bertemu I Gusti Bagus Djelantik, Raja Karangasem.
Tagore bertemu dengan Djelantik berdiskusi tentang agama dan filosofi. Sepanjang perjalanannya di Bali itu, ia telah banyak menuliskan mengenai perbedaan dan persamaan tradisi Hindu di Bali dan India.
Usai pertemuan kedua Bapak Pendidikan tersebut, telah menghasilkan beberapa bentuk kerja sama, termasuk pertukaran pelajar antara Taman Siswa dan Santiniketan, serta pembangunan pusat kajian kebudayaan Jawa di Santiniketan.
Tamansiswa dan perguruan Rabindranath Tagore di Santiniketan, India, memiliki haluan yang sama. Tak hanya itu, kedua tokoh ini pun memiliki prinsip sama terkait pendidikan berbasis kemanusiaan dan nilai-nilai kemerdekaan.
Selain itu, pertemuan kedua tokoh menjadi bukti sejarah akan hubungan antara Indonesia dan India, khususnya di bidang pendidikan yang telah terjalin sejak masa Pra-Kemerdekaan.
Ide-ide yang disuarakan kedua tokoh pendidikan yang masih relevan hingga saat ini. Sehingga, pertemuan itu perlu diperingati dan masih bisa menjadi acuan menentukan kebijakan pendidikan kedua negara di masa mendatang.
Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi, India, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta, Indian Council for Cultural Relations (ICCR), serta Puri Agung Karangasem, Bali, menggelar peringatan 90 tahun pertemuan Tagore dengan Dewantara dan Djelantik dengan kegiatan di Yogyakarta dan Bali pada tanggal 16-18 September 2017.
Dua acara inti, yaitu Seminar Internasional “Gagasan Dewantara dan Tagore di Bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Nasionalisme” menghadirkan 10 pembicara dari Indonesia dan India di Yogyakarta pada tanggal 16 September 2017, dan Sarasehan tentang “90 Tahun Pertemuan Tagore dan Djelantik” di Bali pada tanggal 18 September 2017.
Selain itu, ada kegiatan pendukung termasuk napak tilas perjalanan Tagore ke tempat peninggalan sejarah (Pendopo Tamansiswa, Candi Borobudur dan Prambanan, Puri Tirta Gangga, Puri Agung Karangasem, Taman Ujung), serta pertunjukan Sendratari Ramayana.
Direktorat Sejarah mengalihbahasakan kumpulan tulisan Rabindranath Tagore dalam kunjungan ke Jawa dan Sia, Surat-Surat dari Jawa. Buku ini merupakan rekaman perjalanan yang ditulis Rabindranath Tagore selama kunjungannya ke Asia Tenggara pada Juli sampai Oktober, 1927.
Dari surat-surat yang ditujukan ke beberapa orang terdekatnya, termasuk dua orang anaknya, Rathindranath Tagore dan Mira Devi, menantunya, Pratima Devi, sekretarisnya, Amiya Chakravarty, dan temannya, Nirmalkumari Mahalanobis, Tagore menuliskan kesan-kesan dan buah ide-ide yang diperolehnya sepanjang perjalanan.[Mor]





