GLOBAL

Presiden Putin Putuskan Tarik 1.140 Personel Militer dari Suriah

Kamis, 28 Juni 2018

Indonesiaplus.id – Lebih dari 20 pesawat dan 1.140 personel militer telah diperintahkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk ditarik dari Suriah.

Rusia memang sedang berupaya mengurangi kehadiran militernya di Suriah. “Penarikan ini berlanjut sekarang. Hanya dalam beberapa hari terakhir, 13 pesawat, 14 helikopter, dan 1.140 personel militer telah ditarik keluar dari Suriah,” ujar Putin, Kamis (28/6/2918).

Dikutip laman kantor berita Rusia TASS, bahwa sejak Desember tahun lalu, Putin memerintah Kementerian Pertahanan Rusia mulai menarik pasukan dan armada militernya dari Suriah.

Menurut Putin, selama dua tahun menggelar operasi militer di Suriah, pasukan Rusia bersama tentara Suriah telah berhasil memukul perlawanan kelompok teroris di negara tersebut. “Mengingat hal ini, saya telah mengambil keputusan, sebagian besar kontingen militer Rusia yang tinggal di Suriah untuk kembali ke rumah, ke Rusia,” katanya.

Apresiasi totalitas pasukannya dalam menggempur dan menumpas kelompok milisi di Suriah. Walaupun beberapa di antara mereka harus merelakan nyawanya. “Kami tidak akan pernah melupakan kematian dan kerugian yang diderita dalam pertempuran antiteror, baik di Suriah maupun Rusia,” tandasnya.

Bagi tentara Rusia yang selamat dalam pertempuran, Putin mengucapkan selamat kepada mereka. “Anda akan pulang dengan kemenangan, kepada keluarga, orang tua, istri, anak-anak, dan teman-teman Anda,” tandasnya.

Kendati telah menarik pasukannya, Putin menegaskan negaranya siap untuk kembali menggelar operasi militer bila kelompok milisi dan teroris di Suriah bangkit kembali. “Rusia siap menghadapi pukulan baru bagi teroris jika mereka kembali dan mencoba untuk mendobrak perdamaian Suriah,” ujarnya.

Sebab memukul dan menumpas kelompok teroris di Suriah memiliki dampak langsung terhadap keamanan Rusia. Hal ini karena Putin menilai masalah terorisme bukan hanya persoalan satu negara, melainkan masalah global.

Rusia mulai menggelar operasi militer di Suriah pada September 2015. Operasi militer ini dilakukan berdasarkan permintaan langsung pemerintah Suriah. Kala itu, pemerintah Suriah mengalami kesulitan dan cukup kewalahan menghadapi perlawanan kelompok milisi.

Sejak saat itu, militer Rusia mulai melakukan serangan-serangan udara menargetkan kelompok-kelompok yang menentang pemerintah atau rezim Presiden Bashar al-Assad. Kelompok tersebut antara lain Koalisi Nasional Suriah, Front al-Nusra, serta milisi ISIS.

Berkat bantuan militer Rusia, pemerintah Suriah mulai menggenggam kembali kekuasaannya. Hal ini karena banyaknya daerah di Suriah yang sebelumnya dikuasai kelompok milisi berhasil direbut kembali.

Tak ayal pada November lalu, Presiden Suriah Bashar al-Assad mengucapkan terima kasih kepada Putin atas bantuan militernya. Bagi Assad, sokongan militer Rusia berhasil menyelamatkan negaranya.[Fat]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close