GLOBAL

Ilmuwan BPA: Kebijakan Donald Trump Majukan Jam Kiamat

Sabtu, 28 Januari 2017

Indonesiaplus.id – Dunia lebih cepat menuju kehancuran atau kiamat dalam setahun terakhir. Para ilmuwan menyebut dua pemicunya, yaitu lanskap keamanan global yang kian suram dan Donald Trump.

Menurut Para ilmuwan Bulletin of the Atomic Scientists (BPA), bahwa memindahkan posisi jam kiamat alias The Doomsday Clock, dari 3 menit menjadi 2,5 menit sebelum tengah malam — saat bencana memusnahkan dunia.

Kepala BPA Rachel Bronson mendesak para pemimpin dunia untuk bersikap tenang. “Bukannya menyulut ketegangan yang bisa mengarah pada perang,” ujar dia seperti dikutip dari BBC, Jumat (27/1/2017).

Laporan BPA mengatakan, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perubahan iklim, niat meningkatkan persenjataan nuklir AS, serta mempertanyakan badan intelijen telah berkontribusi meningkatkan risiko global.

Kebijakan ini adalah yang terdekat menuju tengah malam sejak 1953, ketika jarum jam maju 2 menit sebelum kiamat yang dipicu uji coba bom hidrogen yang dilakukan AS dan Rusia.

Doomsday Clock adalah sebuah jam simbolis yang dibuat oleh para ilmuwan untuk mengingatkan, seberapa dekat manusia dengan kiamat, yang dikiaskan dengan waktu tengah malam dilihat dari kaca mata ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan menyesuaikan Jam Kiamat dengan dinamika potensi yang mengancam bumi. Jam Kiamat menunjukkan waktu tengah malam. Jadi jika waktu makin mendekati tengah malam berarti ancaman terhadap bumi semakin besar.

Perangkat simbolik itu diciptakan oleh Bulletin of the Atomic Scientists pada 1947. BPA didirikan di University of Chicago pada tahun 1945 oleh sekelompok ilmuwan yang membantu mengembangkan senjata atom pertama.

Saat ini, BPA yang terdiri atas fisikawan dan ilmuwan lingkungan hidup dunia, yang menentukan akan menyesuaikan jam tersebut sesuai dengan dinamika yang terjadi, berkonsultasi dengan Board of Sponsors yang termasuk di dalamnya 15 peraih Nobel.

Selama dua tahun belakangan, Doomsday Clock bertahan pada posisi 3 menit sebelum tengah malam. Namun, BPA mengatakan, potensi ancaman bencana global lebih besar pada 2017 — sehingga mereka memajukan jarum jam 30 detik.

“Komentar menganggu tentang penggunaan dan proliferasi senjata nuklir yang diucapkan Donald Trump, serta ekspresi ketidakpercayaannya pada konsensus ilmiah tentang perubahan iklim — yang diucapkan Trump dan sejumlah anggota kabinetnya — mempengaruhi keputusan Dewan,” ungkap BPA.

Tak hanya itu, munculnya nasionalisme sempit di seluruh dunia juga menjadi faktor yang dipertimbangkan. Hal lain yang mempengaruhi, seperti tercantum dalam laporan BPA, adalah keraguan tentang masa depan kesepakatan nuklir Iran, ancaman terhadap keamanan siber, dan munculnya berita palsu (fake news).

Keputusan dewan untuk memindahkan jarum jam kurang dari semenit karena Trump baru saja menjabat sebagai Presiden dan anggota kabinetnya belum aktif dalam pemerintahan.

Saat diciptakan pada 1947, jam tersebut berada di posisi tujuh menit menuju tengah malam. Sejak itu posisinya berubah 22 kali, rentang 2 menit ke tengah malam pada 1953, ke posisi 17 menit sebelum tengah malam pada 1991.

Kemudian, pada jam terakhir disesuaikan pada tahun 2015 ketika dipindahkan dari 5 menit ke 3 menit menuju tengah malam di tengah bahaya global seperti perubahan iklim dan proliferasi nuklir.

Jarum jam pada 2015 adalah yang paling dekat dalam jangka waktu 20 tahun — setelah posisi tiga menit menuju tengah malam pada 1984, ketika hubungan AS-Soviet mencapai titik terendahnya.[Fat]

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close