TECHNOLOGY

Para Ilmuwan Mencatat Es di Kutub Hilang Sebanyak 28 Triliun Ton

Indonesiaplus.id – Antara 1994 2017 bumi secara keseluruhan telah kehilangan 28 triliun ton es di kutub. Studi mencatat, bahwa sejak 1990 Bumi hanya kehilangan sekitar 800 miliar metrik ton es dari setiap tahunnya.

Studi teranyar yang diterbitkan oleh jurnal The Cryosphere mencatat es yang mencair di seluruh dunia selama beberapa dekade terakhir.

Temuan tersebut sangat mencolok dan konsisi es terus menghilang di sebagian besar wilayah Bumi, yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Dengan suhu udara meningkat mengakibatkan gletser gunung menyusut dari Pegunungan Alpen Eropa, pegunungan Himalaya di Asia hingga Andes di Amerika Selatan.

Pada studi tersebut menunjukkan gletser gunung di seluruh dunia telah kehilangan hampir 10 triliun ton es sejak 1960 dengan penurunan yang cepat.

Sedangkan, lapisan es Greenland dan Antartika mencair dalam jumlah besar. Sejak 1990-an, Antartika telah kehilangan 2,6 triliun ton dan di Greenland telah kehilangan hampir 4 triliun ton es.

Bahkan, di Antartika sebagian besar es mencair berasal dari gletser yang merusak laut, atau gletser yang kembali ke laut. Studi terbaru menemukan bahwa arus air laut yang hangat menyebabkan gletser mencair dan membuat es bergeser ke laut.

Ilmuwan menyelidiki sumber air hangat yang ada di Antartika dan beberapa ahli percaya bahwa perubahan iklim menjadi pemicu es di Antartika perlahan mencair, melansir Scientific American.

Sementara itu, di Greenland ada fenomena sama yang tengah berlangsung. Namun pencairan di Greenland berasal dari cairnya es pada permukaan atau es yang mencair di lapisan teratas. Suhu panas yang meningkat, memicu cairnya es yang ada di wilayah Greenland.

Diduga dengan hilangnya gletser gunung dan lapisan es merupakan penyumbang naiknya permukaan laut secara global. Studi anyar lainnya memperkirakan telah terjadi kenaikan permukaan permukaan laut sebanyak 34 milimeter sejak tahun 1994.

Seperti dikutip dari India Today, bahwa para peneliti mencatat cairnya es di seluruh dunia memicu naiknya permukaan laut yang meningkatkan risiko banjir di masyarakat pesisir.

“Kendati setiap wilayah yang kami pelajari kehilangan es, kerugian dari lapisan es Antartika dan Greenland paling cepat terjadi,” tandas Thomas Slater, Peneliti di Universitas Leeds, Inggris.

Para peneliti menemukan bahwa kenaikan suhu di atmosfer dan lautan masing masing sebesar 0,26 dan 0,12 derajat Celcius tiap dekade sejak 1980.

Kondis laut dingin merupakan habitat penting bagi satwa liar, termasuk beruang kutub dan dan mamalia laut Walrus. Lapisan es memiliki permukaan terang yang membantu dapat memantulkan panas dari sinar Matahari.

Selain itu, banyak para ahli percaya dengan menyusutnya es laut telah mempercepat laju pemanasan di Kutub Utara. Pada saat ini suhu di sana naik dua kali lipat dari seperti biasanya.[nan]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close