GLOBAL

Skenario Tanah Rohingya Berganti Penghuni Mulai Dijalankan

Selasa, 3 April 2018

Indonesiaplus.id – Puluhan keluarga Suku Marma dan Mro di Bangladesh dirayu otoritas Myanmar, yang turun-temurun memeluk Buddha untuk melintas batas negara dan tinggal di tanah yang ditinggalkan etnis Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Menurut konselor lokal, Muing Swi Thwee, sekitar 50 keluarga dari Suku Marma dan Mro yang menghuni area hutan dan distrik perbukitan Bandarban di belahan tenggara Bangladesh tertarik pindah dan tinggal di tanah yang ditinggalkan Rohingya.

Dari jumlah tersebut, kata Muing, 22 keluarga yang mayoritas pemeluk Buddha dan beberapa pemeluk Kristen bulan lalu bertolak dari desa-desa mereka di hutan cagar alam Sangu dan memasuki Myanmar.

Tercatat lebih dari 100 keluarga dari suku-suku di Bangladesh telah meninggalkan distriknya di Bangladesh menuju Myanmar selama tiga tahun terakhir.

Selain tanah, juga dijanjikan mendapatkan status kewarganegaraan serta bantuan makanan gratis selama lima tahun. ‘’Mereka akan mengisi tanah yang dikosongkan Rohingya yang meninggalkan Burma (Myanmar). Mereka begitu miskin.”

Tak kurang 700 ribu etnis Rohingya dipaksa keluar dari Rakhine dan hampir selurunya mengungsi di Bangladesh menyusul kekerasan terakhir di sana, akhir Agustus lalu.

Pejabat AS dan PBB menggambarkan aksi oleh militer di Rakhine yang disokong kalangan ekstrem Myanmar ini sebagai ‘’pembersihan etnis”.Sejauh ini belum satu pun pengungsi Rohingya berhasil dipulangkan ke Rakhine berdasarkan perjanjian repatriasi (pemulangan) yang disepakati Bangladesh dan Myanmar.

Para pemimpin Rohingya mengatakan bahwa pengungsi tidak akan kembali jika tidak diizinkan menempati lagi desa-desa di Rakhine yang terpaksa ditinggalkannya guna menghindari kekerasan. Mereka lebih memilih tetap di pengungsian ketimbang ditempatkan di sejumlah kamp penampungan sementara di Myanmar.

Pejabat pemerintah Bangladesh dan Myanmar membenarkan migrasi hingga 55 keluarga dari suku-suku di Bangladesh ke Rakhine tersebut.

‘’Mereka dirayu oleh beberapa orang di Myanmar dengan imbalan rumah gratis, makanan gratis selama lima hingga tujuh tahun. Beberapa keluarga telah memilih pindah ke sana berkat beberapa penawaran itu,” ujar Jahangir Alam, pejabat Bangladesh yang mengurusi pemerintahan distrik.

Beberapa dari keluarga dalam suku-suku itu memang memiliki keluarga di Rakhine. Hubungan keluarga ini yang dijadikan dasar merayu anggota suku-suku di Bangladesh untuk pindah ke Myanmar.

‘’Orang-orang ini memiliki kesamaan agama dan bahasa dengan Myanmar. Beberapa di antaranya memiliki nenek moyang yang tinggal di sana pada masa silam,” katanya.

Al Kaiser, pejabat lain di pemerintah Bangladesh, mengatakan, seorang lelaki anggota suku tewas dan beberapa anggota keluarganya terluka akibat ledakan ranjau kala melintas masuk ke wilayah Myanmar dari Kota Ali Kadam.

Pejabat Bangladesh menuding motif politik di balik migrasi tersebut. ‘’Kami kira, bisa jadi mereka (Myanmar) ingin membuat berita memanfaatkan orang-orang ini bahwa pemeluk Buddha disiksa dan ditekan di Bangladesh, sehingga mereka meninggalkan negara tersebut,” ujar seorang pejabat anonim kepada AFP.

Kepada kantor berita AFP, seorang perwira keamanan Bangladesh menyatakan, Myanmar telah menempatkan ribuan pemeluk Buddha di Rakhine dengan memanfaatkan skema tinggal dengan makanan, rumah, dan hewan ternak gratis serta uang tunai.

Pengamat menyebut otoritas Myanmar melancarkan skema metode rekayasa sosial di belahan utara Rakhine di tengah ketidakhadiran sebagian besar etnis Rohingya. Sejumlah proyek pembangunan yang didanai pemerintah, swasta, maupun yang disponsori militer diarahkan untuk mentransformasikan area tersebut sebagai garda depan dalam peperangan melawan ‘’serbuan Islam”.[Fat]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close