GLOBAL

Satu Per Satu Penghargaan Aung San Suu Kyi Mulai Dipereteli

Kamis, 5 Oktober 2017

Indonesiaplus.id – Perlakuan kejam pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya menjadi penyebab berbagai penghargaan terhadap Aung San Suu Kyi mulai dipreteli.

Dewan Kota Oxford, Inggris, mencabut penghargaan kemanusiaan yang mereka berikan kepada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi.

Pasalnya, apa yang terjadi di Myanmar dianggap berpotensi mencoreng reputasi Oxford sebagai pusat ilmu pengetahuan. Pekan ini semua anggota Dewan Kota secara bulat setuju menganulir penghargaan Freedom of the City untuk Suu Kyi.

“Kami tak mau reputasi Oxford rusak, karena memberi penghargaan kepada pihak yang menutup mata terhadap kekerasan,” ujar anggota dewan Mary Clarkson, seperti diberitakan Reuters, Rabu (4/10/2017).

Selama ini, Suu Kyi dikritik karena tak berbuat apa-apa untuk melindungi etnis Rohingya yang dipersekusi militer dan penduduk sipil Myanmar.

Bahkan, banyak yang menuntut semua penghargaan kemanusiaan yang didapat mantan aktivis pro-demokrasi itu dicabut. Namun, sejauh ini baru Dewan Kota Oxford yang mengambil langkah tersebut.

“Ketika PBB menyebut situasi di Myanmar sudah masuk kategori pembersihan etnis, Aung San Suu Kyi justru menyangkalnya. Juga, dia mengabaikan laporan tentang kekerasan seksual terhadap perempuan Rohingya dengan menyebutnya sebagai pemerkosan palsu,” tegas Clarkson.

Selain itu, Suu Kyi terancam kehilangan penghargaan serupa dari Kota Sheffield, Inggris. Pasalnya, bulan lalu warga setempat membuat petisi untuk dewan kota meminta penghargaan tersebut dicabut.

Belakangan ini sejumlah institusi yang memiliki kaitan dengan Suu Kyi memang mulai menjauh. Mereka tak sudi lagi dihubungkan dengannya.

Pekan lalu, Universitas Oxford mencopot foto penasihat negara Myamnar itu dari dinding Kolese St Hugh. Suu Kyi adalah alumni universitas tertua di Inggris tersebut.

Sementara Unison, serikat buruh terbesar kedua Inggris, bulan lalu mengumumkan bahwa mereka telah membekukan gelar anggota kehormatan Suu Kyi.[Fat]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close