Ungkap Misteri Khashoggi Turki Ragu Saudi Bersedia Transparan
Kamis, 1 November 2018
Indonesiaplus.id – Dalam penyelidikan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, Turki mengungkapkan keraguannya, Rabu (31/10/2018), bahwa Arab Saudi bersedia “bekerja sama secara transparan.
Pria 59 tahun itu merupakan warga Saudi yang kabur ke Amerika Serikat (AS) sejak September 2017. Ia takut ditangkap karena kerap mengecam kebijakan reformasi yang diusung Putra Mahkota Mohammad bin Salman, serta mengecam intervensi negara kerajaan ini dalam perang di Yaman.
Kontributor Washington Post itu berada di gedung Konsulat Saudi di Istanbul untuk mengurus dokumen jelang pernikahannya dengan seorang perempuan Turki pada 2 Oktober. Sejak itu, Khashoggi lenyap tanpa jejak.
Usai menyangkal beberapa kali, kendati didesak publik internasional termasuk Presiden AS Donald Trump, Saudi akhirnya mengakui Khashoggi terbunuh dalam “adu tinju” karena ia melawan tim interogator yang berjumlah 15 orang di dalam gedung.
Namun, siapa yang memerintahkan tim tersebut dan di mana jasad Khashoggi masih menjadi misteri tak terjawab.
“Sebenarnya kami tidak mendapat kesan mereka akan bekerja sama secara transparan dalam investigasi ini,” kata seorang pejabat senior Turki pada AFP dalam kondisi anonim.
“Petugas dari Saudi hanya tertarik mencari bukti-bukti apa yang dimiliki Turki, yang mungkin saja memberatkan pihak tertentu.”
Jaksa Agung Sheikh Saud al-Mojeb, orang pertama dari Saudi yang mengakui pembunuhan Khashoggi direncanakan, mengunjungi Turki sejak Minggu kemarin.
Ia bertemu jaksa penuntut umum dua kali, mengunjungi gedung Konsulat di Istanbul, dan berdiskusi dengan dinas intelijen Turki MIT.
Mojeb tidak membuat pernyataan publik, lalu menuju Bandara Ataturk pada Rabu sore untuk meninggalkan Istanbul.
Kerajaan Saudi menolak tuduhan terlibat dalam operasi pembunuhan sang jurnalis. Mereka ngotot dengan argumen bahwa tindakan itu dilakukan “sekelompok pembangkang” dan menahan 18 orang yang terlibat.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tidak secara langsung menuduh rezim Saudi terlibat, tapi terus mendesak pengungkapan lokasi pembuangan jasad Khashoggi dan meminta para pelaku untuk diadili di Istanbul. Riyadh menolak permintaan ekstradisi.[fat]





