BI Luncurkan Instrumen Repo Valas Baru untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Indonesiaplus.id — Bank Indonesia (BI) resmi mengimplementasikan instrumen baru dalam operasi moneter berupa transaksi repo dalam valuta asing (valas) mulai Senin (30/3/2025). Langkah ini diambil sebagai bagian dari penguatan strategi operasi moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa instrumen baru tersebut menggunakan underlying Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI).
“Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar (pro-market), guna meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA),” kata Erwin dalam keterangan resmi, Senin (30/3/2025).
Erwin menyebutkan bahwa transaksi repo valas tersebut dapat diikuti oleh dealer utama (primary dealer) PUVA. BI menilai kehadiran instrumen baru ini dapat memberikan alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas, khususnya likuiditas valas.
Selain itu, penambahan fitur repo kepada BI juga disebut semakin memperkuat karakteristik SVBI dan SUVBI sebagai high quality liquid assets (HQLA).
“Melalui penguatan tersebut, aktivitas pasar sekunder SVBI dan SUVBI diharapkan akan semakin meningkat, sehingga turut mendukung pendalaman pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut,” ungkap Erwin.
Pada perdagangan Senin (30/3/2025) pagi, rupiah berada di level Rp16.982 per dolar AS, melemah 2 poin atau 0,01 persen dari perdagangan sebelumnya. Mayoritas mata uang kawasan Asia turut bergerak di zona merah. Yen Jepang menjadi pengecualian dengan menguat 0,21 persen, sementara baht Thailand melemah 0,11 persen, yuan China melemah 0,13 persen, peso Filipina melemah 0,36 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,20 persen.
Sementara itu, mata uang utama negara-negara maju kompak menguat. Euro menguat 0,07 persen, pound sterling Inggris menguat 0,04 persen, dan franc Swiss menguat 0,04 persen.[]





