NATIONAL

Tangani Karhutla, Wiranto: Pemerintah Siapkan Antisiasi

Indonesiaplus.id – Pemerintah tengah menyiapkan sejumlah antisipasi terkait penanganan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di Indonesia.

“Di antara antisipasi yaitu penguatan Manggala Agni atau pasukan darat yang memadamkan api,” ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI Wiranto usai melaksanakan Rakorsus tingkat menteri tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Penguatan, kata Wiranto, dalam bentuk penambahan jumlah personel yang disertai alat pemadam kebakaran. Juga, pemerintah menyiapkan dengan hujan buatan.

Hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), diketahui hujan buatan hanya bisa dilakukan jika awan tersebut memiliki kadar air minimal 75 persen.

“Ini bila kadar airnya 75 persen akan kita tabur garam menggunakan pesawat terbang. Kemudian, hujan akan turun,” katanya.

Sebagai upaya mempermudah penanganan Karhutla, Panglima TNI juga telah menyiapkan dua unit pesawat terbang untuk menabur garam di titik-titik kritis. “Panglima TNI sudah memberikan pinjaman pesawat tambahan ke BNPB dan bersiaga di daerah terdampak,” katanya.

Khusus untuk menangani Karhutla di daerah yang sulit dijangkau serta terbatas akses jalan, maka pemerintah menyiapkan strategi bom air menggunakan helikopter.

Pemerintah menyiapkan 42 unit helikopter untuk menjatuhkan bom air di titik-titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, terdapat penambahan helikopter.

Soal anggaran, BNPB menyiapkan dana siap pakai untuk Karhutla. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyiapkan dana bagi hasil reboisasi yang dapat digunakan untuk tambahan penanggulangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat dari pantauan citra Satelit Himawari-8 dan analisis Geohotspot jumlah titik panas (hotspot) diduga karena kebakaran hutan dan lahan terdeteksi di Sumatra, Kalimantan, hingga Sarawak, Sabah, dan Semenanjung Malaysia.

“Terjadi akumulasi titik panas pada 12 September 2019 dan dirilis 13 September 2019, di wilayah Sumatera terpantau 1.231 titik di Kalimantan terpantau 1.865 titik di Semenanjung Malaysia 412 titik, serta di Serawak-Sabah 216 titik panas,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulis, Jumat (13/9/2019).[sap]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close