HUMANITIES

Respon Cepat Kemensos Bagi Tiga Anak Yatim Piatu Disabilitas Berat di Kupang

Indonesiaplus.id – Kementerian Sosial RI melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai “Naibonat” merespon cepat tiga anak yatim piatu penyandang disabilitas berat di Desa Lefuleo, Kec Kupang Barat, Kab Kupang, NTT.

Keluarga miskin dengan anggota keluarga empat orang kakak beradik usai kedua orang tuanya meninggal. Ibunya meninggal pada 2014 dan ayahnya 2019.

Anak pertama Martha, 24 tahun dan anak kedua sampai ke empat laki-laki, yaitu Darius 22 tahun, Eston 15 tahun dan Kian 11 tahun. Keempat anak laki-laki mengalami disabilitas berat, namun Martha yang tidak mengalami disabilitas.

Ketiga anak hampir sama tapi tidak bisa berdiri, sulit menggerakkan kakinya tapi bisa berbicara. Darius mengalami kondisi lebih parah karena kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan, serta badan ketiga anak itu terlihat kurus.

Mereka mengalami disabilitas sejak usia kurang lebih 7 tahun dengan gejala hampir sama saat berjalan sering terjatuh dan lambat laun tidak bisa berdiri hingga akhirnya semua kaki tak bisa digerakkan serta hanya bisa duduk.

Semakin lama mengalami kesulitan menggerakkan tanganya dan Darius tidak dapat menggerakkan kaki dan tangan. Eston masih bisa menggerakkan jari-jarinya secara pelan-pelan dan Kian bisa menggerakkan tangan perlahan-lahan.

Ketiga anak disabilitas menggantungkan dirinya kepada Kakak Perempuan, misalnya untuk makan disuapin. Eston perlahan-lahan bisa makan dengan menggerakkan jarinya, tetapi mengangkat tangan harus dibantu sedangkan Kian masih bisa makan sendiri.

Saat akan tidur harus dibantu merebahkan badan, seperti mandi ke toilet harus diangkat oleh kakak perempuannya. Mereka selama ini belum pernah memeriksakan kesehatan, karena tidak memiliki biaya serta layanan BPJS.

Kakak perempuan terlihat kurus lantaran harus mengasuh ketiga adiknya lumpuh, sekaligus harus memenuhi kebutuhan. Namun, ia mengambil inisiatif untuk membuka toko kecil-kecilan di rumah karena tak bisa bekerja keluar desa.

Untuk usaha toko harus meminjam modal di koperasi dan hingga saat ini masih menanggung hutang Rp 2,3 juta dengan 11 kali angsuran. Kondisi kemiskinan menjadikan keluarga ini menerima PKH atas nama almarhum bapaknya.

Kepala Balai “Naibonat”, Supriyono mengatakan, bahwa terkait laporan kondisi keluarga dengan merespon dengan memberikan layanan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), dimulai asesmen awal kondisi disabilitas anak dan konsultasi dengan tim asesmen Balai Besar “Prof.Dr. Soeharso” di Surakarta dengan mengirimkan video dan foto anak.

Ketiga anak didiagnosa mengalami Duschene Muscular Dystrophy (DMD), berupa penyakit genetik yang  menyebabkan kelemahan pada otot volunter.

Balai “Naibonat” bekerja sama dengan Puskesmas Kupang Barat untuk memeriksa anak ke rumah sakit daerah dengan merawat inap 3 hari. Hasil pemeriksaan dokter rumah sakit menyatakan mereka menunjukkan gejala penyakit genetik.

Untuk pemenuhan biaya perawatan, Balai Naibonat dan Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) mendampingi keluarga membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan bernegosiasi dengan rumah sakit untuk biaya perawatan, serta Rumah Sakit Daerah menyetujui pembebasan biaya rawat inap.

Selain itu, Balai “Naibonat” dan Sakti Peksos juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang agar keluarga ini memperoleh BPJS yang iurannya ditanggung pemerintah dan BPJS masih dalam tahap proses.

Lalu Balai “Naibonat” memberikan layanan ATENSI berupa pemenuhan kebutuhan dasar, meliputi makanan pokok dan tambahan nutrisi berupa beras, mie instan, minyak goreng, telor, susu.

Untuk jangka panjang, Balai mendukung kakak perempuan agar bisa mengasuh adik-adiknya lebih baik dengan cara penguatan pengasuhan, dukungan keluarga dan pemberdayaan ekonomi.

Balai juga bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mendampingi dan menambah modal usaha, yang terkumpul dana Rp 4,5 juta, serta dana akan digunakan angsuran hutang dan menambah modal usaha di warung.

Selain itu, koordinasi dilakukan balai untuk menyediakan alat bantu yang cocok dengan kondisi kedisabilitasan ketiga anak tersebut.[ama]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close