HUMANITIES

Kecenderungan Mati Muda Bunuh Diri Mulai Terlihat di Indonesia

Rabu, 10 Oktober 2018

Indonesiaplus.id – Kecenderungan untuk mati muda dengan bunuh diri mulai terlihat di Indonesia. Penyebabnya pun sepele, dari nilai yang sekolah yang jeblok hingga stres karena diputus cinta.

Dewan Pakar Badan Kesehatan Jiwa (Bakeswa) Indonesia Nova Riyanti Yusuf atau Noriyu membeber sejumlah contoh yang sudah terjadi. Di 2017, seorang siswa SD berusia 10 tahun di Manado bunuh diri karena tidak bisa meraih nilai tertinggi.

“Belum lama ini seorang siswa SMP nekat bunuh diri terjun dari apartemennya di Jakarta Selatan, karena takut menghadapi ujian bahasa Mandarin,” ucap Noriyu di acara dialog Mengenali Kesehatan Jiwa Pada Remaja dan Penanganannya di Universitas Paramadina Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Menurut Alumni Harvard Medical School ini, bunuh diri sebagai jalan terbaik untuk mengakhiri hidup tidak membahagiakan. Lebih mengkhawatirkan hal ini mulai umum dilakukan remaja.

Anggota DPR ini menyebutkan problema emosional justru paling banyak dialami perempuan dibandingkan laki-laki. Perempuan mengalami problema emosional empat kali lipat dibandingkan laki-laki.

Sekolah umum kecenderungannya memiliki risiko problema emosional tiga kali lipat daripada sekolah kejuruan. “Sakit jiwa yang sudah akut ini umumnya akan diselesaikan dengan tindakan bunuh diri,” katanya.

Berdasarkan data WHO memperkirakan angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia cukup variatif dari 840 di 2013, angkanya naik menjadi 5.000 di 2010 dan meningkat jadi 10.000 kasus di 2012.

“Jumlah tersebut yang terdata, sedangkan yang tidak terdata diduga seperti efek gunung es,” tandasnya.[mor]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close