GLOBAL

Data Ekonomi China Melemah, Harga Minyak Dunia Turun

Sabtu, 15 Desember 2018

Indonesiaplus.id – Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mentah turun karena terbebani oleh data ekonomi Republik Rakyat China yang melemah.

Kondisi tersebut mengkhawatirkan pasar akan menurunnya permintaan minyak dunia. Pasalnya, negara dengan penduduk sekitar 1,3 miliar tersebut merupakan importir minyak terbesar di dunia.

Reuters melansir, Sabtu (15/12/2018), harga minyak mentah Brent International turun USD1,33 atau 2,16% menjadi USD60,12 per barel. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) turun 2,6% menjadi USD51,20 per barel.

“Untuk harga minyak selalu rentan terhadap penjualan ke negara importir besar apalagi jika terjadi penguatan dolar AS seperti yang terjadi saat ini,” ujar Jim Rittersbuch, presiden Ritterbusch and Associates di New York.

Sengketa dagang antara AS dengan RRC sejak medio Maret lalu, telah membuat ekonomi China tertatih-tatih. Dampaknya, penjualan ritel China di bulan November lalu berada di jalur terlemah sejak tahun 2003, begitupula
produksi industri mereka berada di level rendah dalam hampir 3 tahun.

Produksi kilang minyak China pada November turun dibandingkan bulan Oktober lalu. Sehingga bisa berdampak pada melemahnya permintaan minyak China. Sejauh ini, permintaan minyak China berjalan 2,9% di atas tingkat permitaan tahun lalu.

“Kompleksitas masalah energi dan serangkaian data ekonomi China yang lemah bisa berdampak ke permintaan,” kata analis PVM Oil, Stephen Brennock.

Ditengah melemahnya harga minyak, OPEC dan negara produsen non-OPEC yaitu Rusia, ingin meningkatkan harga dengan memangkas produksi 1,2 juta barel per hari, atau lebih dari 1% dari permintaan global.

Demi menggenjot harga agar kembali kuat, pemimpin OPEC yaitu Arab Saudi berencana mengurangi produksinya menjadi 10,2 juta barel per hari pada bulan Januari depan.

Berdasarkan data informasi energi AS (IEA) memprediksi permintaan minyak dunia pada tahun 2019 akan sebesar 1,4 juta barel per hari. Angka ini hanya naik tipis dari perkiraan pertumbuhan minyak global tahun 2018 sebesar 1,3 juta barel per hari.[fat]

Related Articles

Back to top button