ECONOMY

Permintaan N219 Tinggi, PTDI Butuh $119 Juta Untuk Tingkatkan Produksi

Rabu, 13 Februari 2019

Indonesiaplus.id – Alternatif pendanaan eksternal tengah dikaji oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan mengedepankan ekuitas.

Dari rencana tersebut, produsen pesawat milik negara ini sedang meninjau peluang penerbitkan surat berharga perpetual (perpetual bond) ataupun menggalang dana dari kontrak investasi kolektif-dana investasi real estate (KIK-DIRE).

Menurut Direktur Utama Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro, bahwa pihaknya tengah mengkaji dan berdiskusi  terkait pendanaan alternatif dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), karena perseroan tengah membutuhkan dana US$ 119 juta untuk mendukung ekspansi fasilitas produksi pesawat terbang N219.

“Melalui KIK-DIRE maupun perpetual bond merupakan beberapa instrumen atau sumber dana yang sedang  dijajaki perusahaan. Perseroan belum menentukan pilihan,” ujar Elfien di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Saat ini, PT DI masih akan mendiskusikan rencana pendanaan eksternal terkait ekuitas dengan pihak Bappenas  lebih lanjut dalam waktu dekat. “Paling dalam dua minggu lagi, kami akan kembali berdiskusi,” katanya.

Dengan pendanaan eksternal ini diharapkan dapat segera difinalisasi karena perseroan memang perlu untuk memingkatkan kapasitas produksi pesawat terbang N219 yang tingkat permintaannya tengah meningkat.

“Sinyal positif terlihat dari permintaan tengah naik, misalnya itu dari Singapura, Uni Emirat Arab, Afrika, Amerika Latin,” paparnya.

Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Pembiayaan Investasi Non-Anggaran Pemerintah (PINA) Bappenas Ekoputro Adijayanto, mengatakan, pihaknya turut mendorong penerbitan instrumen investasi alternatif untuk mendorong proyek badan usaha milik negara (BUMN) atau swasta.

Karena itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai hal tersebut.

Salah satu BUMN yang berniat mendanai ekspansi melalui instrumen alternatif investasi, yakni DIRE adalah  Dirgantara Indonesia.

“Dirgantara Indonesia berniat mencari pendanaan dari DIRE, yang aset dasarnya merupakan kepemilikan atas  pabrik,” ungkapnya.

Proyek perluasan pabrik yang direncanakan Dirgantara Indonesia termasuk salah satu proyek yang ada di pipeline PINA per Januari 2019.

Sejalan dengan hal itu, menurut dia, sejauh ini Dirgantara Indonesia bersama tim PINA masih mengkaji potensi dana yang dapat diraih melalui DIRE. Kajian tersebut juga terkait dengan aset dasar yang akan digunakan.

”Tentu saja, kami ingin menegaskan, bahwa instrumen DIRE tidak hanya terbatas aset berupa perumahan. Sebaliknya, di luar negeri, setiap aset berada di atas lahan dapat dijadikan aset dasar dari DIRE,” tandas Ekoputro.

Rencana penggalangan dana melalui instrumen DIRE, merupakan bagian strategi dari Dirgantara Indonesia untuk mendanai ekspansi pabrik. Perusahaan pelat merah tersebut ingin meningkatkan kapasitas produksi, terutama untuk pesawat terbang N219.

“Permintaan pesawat terbang N219 cukup tinggi, tapi kapasitas belum memadai sehingga Dirgantara Indonesia  perlu ekspansi. Mengenai hal itu, pemerintah berinisiatif untuk mendorong peningkatan kapasitasnya,” tegasnya.

Kendati target dana melalui DIRE belum ditetapkan, tetapi menilik data pipeline PINA per Januari 2019, kebutuhan investasi Dirgantara Indonesia mencapai Rp 5,9 triliun. Dana tersebut dibutuhkan untuk pengembangan pesawat terbang N219.[sal]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close