ECONOMY

Minyak Mentah Dunia Naik, Usai Arab Saudi Sukarela Pangkas Produksi

Indonesiaplus.id – Usai Arab Saudi memangkas produksi minyak turut menaikan harga minyak mentah dunia. Kendati sepihak setuju memangkas produksi selama dua bulan ke depan karena stok minyak mentah AS turun.

Dampak kerusuhan di Capitol AS oleh pendukung Presiden Donald Trump terhadap pasar dan harga minyak. Kendati beberapa analis yakin Presiden terpilih Joe Biden akan mampu menekan produksi minyak AS.

Dilansir laman CNBC, Jumat (8/1/2021), harga minyak mentah Brent naik 22 sen, atau 0,41 persen, menjadi USD 54,52 per barel, setelah naik 1,3 persen sebelumnya.

Untuk US West Texas Intermediate (WTI) naik 23 sen, atau 0,45 persen diperdagangkan pada posisi USD 50,86 per barel. Kontrak harga minyak ini naik 1,4 persen sehari sebelumnya.

Pemerintah Arab Saudi, pengekspor minyak terbesar dunia, mengatakan secara sukarela memangkas 1 juta barel per hari (bph) produksi pada Februari dan Maret.

Keputusan ini dilakukan menyusul OPEC +, yang mengelompokkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen lain, termasuk Rusia, bertemu sebelumnya.

“Tampaknya minyak mentah WTI siap naik lebih tinggi karena pemerintahan Biden menekan produksi minyak mentah AS, Saudi secara tentatif mengurangi kekhawatiran kelebihan pasokan dengan pemotongan 1 juta barel per hari mereka, dan karena hari-hari dolar tampaknya terhitung,” ujar Edward Moya, pasar senior analis di OANDA.

Analis bilang bahwa Dolar yang lebih rendah dan membuat harga minyak lebih murah karena komoditas tersebut sebagian besar diperdagangkan menggunakan greenback, juga mendukung harga.

“Kondisi stok minyak mentah AS turun dan persediaan bahan bakar naik,” ucap sumber mengutip penjelasan Lembaga Administrasi Informasi Energi AS.

Untuk persediaan minyak mentah turun 8 juta barel dalam sepekan hingga 1 Januari menjadi 485,5 juta barel. Namun, berbeda dengan jajak pendapat Reuters menunjukkan analis memperkirakan penurunan 2,1 juta barel.

Dengan penurunan stok minyak mentah adalah kejadian akhir tahun yang biasa terjadi ketika perusahaan energi mengeluarkan minyak dari penyimpanan untuk menghindari tagihan pajak.

Dikenaikan harga WTI yang berkelanjutan dapat menyebabkan kebangkitan kembali output AS. “Jika patokan AS membuat harga di atas USD 50 / bbl dan seterusnya, itu dapat mendorong tambahan pasokan AS, yang mungkin merepotkan dalam jangka panjang bagi banyak anggota OPEC +,” ungkap Kevin Solomon, Analis Pasar energi di StoneX.[tat]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close