HEALTH

Angka Bunuh diri Terus Naik, Kemenkes: Jangan Hakimi Korban, Utamakan Empati

Indonesiaplus.id — Jumlah kasus bunuh diri di Indonesia terus menunjukkan tren kenaikan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun meminta masyarakat mengubah sikap: alih-alih menghakimi korban maupun penyintas, bangunlah empati dan buka ruang untuk berbicara.

Berdasarkan data kepolisian yang dipaparkan Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr. Imran Pambudi, tercatat 1.332 kasus pada tahun 2023. Angka itu naik menjadi 1.403 kasus pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 1.503 kasus sepanjang tahun 2025.

Namun, angka yang tercatat ini diperkirakan belum menggambarkan kondisi sesungguhnya. Sebagai gambaran, menurut perhitungan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) pada 2023, jumlah kasus bunuh diri di Indonesia diperkirakan mencapai 5.236 kasus.

“Saya yakin masih banyak kasus yang tidak dilaporkan. Angka tadi baru yang tercatat dan sudah berakhir dengan kematian. Belum termasuk percobaan yang tidak berujung meninggal. Kasus semacam ini cukup banyak dan seringkali ditutupi, tidak dilaporkan,” ujar dr. Imran dalam Temu Media di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Kondisi ini menurutnya menegaskan perlunya perubahan cara pandang masyarakat terhadap bunuh diri — sejalan dengan tema global pencegahan bunuh diri periode 2024–2026, yaitu Changing the Narrative on Suicide atau Mengubah Narasi tentang Bunuh Diri.

“Selama ini sering muncul anggapan bahwa orang yang berniat mengakhiri hidup adalah orang yang tidak bersyukur. Padahal pandangan itu belum tentu benar. Karena itulah kita perlu mengubah narasi tersebut,” tambahnya.

Kemenkes menekankan, masyarakat harus berhenti memberi stigma kepada mereka yang berjuang dengan masalah kesehatan jiwa atau memiliki keinginan mengakhiri hidup. Sebaliknya, lingkungan sekitar perlu menjadi ruang aman tempat mereka bercerita dan mendapat dukungan.

Ada tiga perubahan sikap yang didorong:

  • Dari stigma menjadi empati.Jangan menyalahkan korban, melainkan pahami dan peduli pada apa yang sedang mereka alami.
  • Dari menghakimi menjadi mendengarkan. Jangan buru-buru memberi label. Dengarkan dulu agar beban yang mereka pikul dapat dipahami.
  • Dari diam menjadi berbicara. Miliki keberanian membuka percakapan demi lingkungan yang lebih aman dan peduli kesehatan jiwa.

“Dulu kita cenderung menghakimi, kini berusahalah mendengarkan: apa yang membebani pikiran mereka? Kalau dulu kita diam saja melihat hal seperti ini, ke depan mari kita buka ruang untuk berbicara,” tegasnya.

Dr. Imran juga mengingatkan: dampak bunuh diri tidak berhenti pada korban saja. Diperkirakan, satu kasus kematian akibat bunuh diri dapat memberi dampak mendalam bagi sedikitnya 30 orang di lingkungan terdekat — mulai dari keluarga, sahabat, hingga petugas yang memberi pertolongan.[auf]

Related Articles

Back to top button