GLOBAL

Tolak Pencalonan Kelimanya, Bouteflika Peringatkan Terjadi Chaos

Jumat, 8 Maret 2019

Indonesiaplus.id – Terkait pencalonan untuk menjabat periode kelimanya, Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika (82) memperingatkan risiko chaos (kekacauan) berkaitan rentetan demo.

Di Ibu Kota Aljiers, Kamis (7/3/2019), giliran para pengacara dan jurnalis turun ke jalan menolak pencalonan kembali sang presiden serta mendesaknya mundur.

‘’Beberapa dari sesama warga negara kita berdemonstrasi di penjuru negara Afrika Utara ini telah mengekspresikan pandangan mereka secara damai. Namun, kami harus menyerukan waspada dan hati-hati, dalam kasus pengekspresian pendapat yang damai ini disusupi oleh beberapa pihak berbahaya yang bisa memicu kekacauan,’’ ujar Bouteflika dari Swiss, tempatnya menjalani perawatan medis sejak 24 Februari, dalam pesan tertulis yang dirilis Kantor Berita APS.

Bouteflika tidak mengomentari tuntutan mundur dari pencalonan bersaing pada Pilpres 18 April karena dicap telah ‘’uzur dan sakit-sakitan’’ yang disuarakan demonstran dari kalangan warga, mahasiswa, sivitas akademika di sejumlah kampus, serta kemarin gabungan pengacara dan jurnalis di Aljiers.

Pesan sehari sebelum agenda demo besar-besaran, Jumat (8/3/2019), Bouteflika justru menggemakan peringatan sebelumnya oleh para pejabat senior di pemerintahannya.

Yaitu, jika tidak waspada, demo-demo kali ini bisa membawa kembali ke ‘’tragedi nasional’’ perang saudara selama satu dasawarsa maupun menuju ‘’krisis dan tragedi akibat terorisme’’ seperti di negara-negara tetangga.

Aljazair mampu menghindari efek konflik yang dipicu oleh gerakan Arab Spring yang telah menumbangkan pemerintahan Tunisia dan Libya. Namun, ketidakpuasan masih menghinggapi warganya, khususnya pemuda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Dia telah berkuasa dua dasawarsa, Bouteflika belakangan harus memakai kursi roda dan sangat jarang tampil di depan umum sejak terserang stroke pada 2013. Begitu mengumumkan rencananya maju lagi untuk periode kelima, hampir tiap hari per 22 Februari lalu protes muncul di Aljiers meski demonstrasi resmi dilarang sejak 2001.

Bouteflika benar-benar maju, ditandai dengan pendaftaran resmi sebagai kandidat capres, Minggu (3/3) malam, protes menentangnya kian meluas. Janji Bouteflika bahwa ia segera mundur jika memenangi Pilpres 18 April tetap ditolak demonstran.

Kini publik hanya bisa menunggu putusan Dewan Konstitusi, Kamis (14/3), atas kandidat capres yang dinyatakan lolos maju di Pilpres 18 April.

Michael Ayari, analis pada International Crisis Group, mengatakan, bahwa sulit diprediksi yang terjadi di Aljazair ke depan. Negara ini dikoyak antara memori kegagalan berseminya demokrasi pada 1988-1991 serta ‘’harapan menuju kebebasan’’.

Menghindari kekerasan, kata Ayari, gerakan menuntut perubahan kali ini harus menghormati aturan konstitusi. Pada saat bersamaan, tuntutan mereka harus tetap substansial, bertahap, dan jika perlu dinegosiasikan.[fat]

Related Articles

Back to top button