GLOBAL

Rusia Dituduh Retas Data Vaksin oleh AS, Inggris dan Kanada

Indonesiaplus.id – Rusia dituduh serentak oleh pemerintah negara Barat karena meretas informasi penting soal data vaksin Covid-19.

Dilaporkan, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Kanada mengungkap upaya pencurian informasi penelitian vaksin oleh peretas yang terkait dengan dinas intelijen Rusia di tengah kompetisi dunia untuk mengatasi pandemi.

Pelaku musuh yang dikenal dan badan-badan intelijen di AS, Inggris, dan Kanada mengatakan kelompok peretasan APT29 dikenal sebagai Cozy Bear, menyerang lembaga-lembaga penelitian akademik dan farmasi yang terlibat dalam pengembangan vaksin Covid-19.

Memang, Cozy Bear memiliki rekam jejak berprofil tinggi dalam dunia peretasan. Mereka pernah terlibat dalam peretasan Komite Nasional Demokrat AS (DNC) selama pilpres AS 2016.

Sedangkan, pada 2017, mereka menyerang Partai Buruh Norwegia. Kementerian pertahanan dan layanan keamanan nasional negara itu pun turut menjadi sasaran penyerangan

Berdasarkan laporan setebal 16 halaman oleh agen-agen Barat dan dipublikasikan, Kamis (16/7/2020) menuduh Cozy Bear menggunakan perangkat lunak berbahaya khusus untuk menargetkan sejumlah organisasi secara global. Malware, disebut WellMess dan WellMail, sebelumnya tidak dikaitkan dengan grup.

“Serangan baru-baru ini menargetkan penelitian dan pengembangan vaksin Covid-19, kelompok ini melakukan pemindaian kerentanan dasar terhadap alamat IP eksternal tertentu yang dimiliki oleh organisasi. Kelompok itu kemudian mengerahkan eksploitasi publik terhadap layanan rentan yang diidentifikasi,” tulis laporan itu.

Para pejabat tidak membocorkan apakah ada upaya Rusia yang berhasil. “Ini benar-benar tidak dapat diterima Dinas Intelijen Rusia menargetkan mereka yang bekerja untuk memerangi pandemi virus corona baru,” ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris Dominic Raab.

Dia menuduh Moskow mengejar kepentingan diri sendiri dengan perilaku yang sembrono. Berpegang teguh pada bahasa lebih umum, sekretaris pers Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan pihaknya akan mengambil langkah untuk menjaga data keamanan negara.

“Jadi, kami bekerja sangat erat dengan sekutu untuk memastikan akan mengambil langkah-langkah untuk menjaga agar informasi itu aman dan kami terus melakukannya,” tandasnya.

Juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov, menolak tuduhan tersebut. “Kami tidak memiliki informasi tentang siapa yang mungkin meretas perusahaan farmasi dan pusat penelitian di Inggris. Kami dapat mengatakan satu hal, yakni Rusia tidak ada hubungannya dengan upaya-upaya itu,” tandas Peskov menurut kantor berita negara Tass.

Badan keamanan siber Departemen Keamanan Dalam Negeri AS pada Mei lalu, memperingatkan penjahat dunia maya dan kelompok lain menargetkan penelitian Covid-19.

Saat itu, mereka mencatat terjadi peningkatan jumlah orang yang melakukan teleworking karena pandemi telah menciptakan jalan potensial bagi para peretas untuk mengeksploitasi.

“Penjahat bermotivasi mengeksploitasi situasi dan begitu juga pemerintah asing yang memiliki tuntutan mendesak mereka sendiri untuk informasi tentang pandemi dan tentang hal-hal seperti penelitian vaksin,” tandas Tonya Ugoretz, wakil asisten direktur di divisi siber FBI bulan lalu.

Peringatan tidak menyebutkan nama organisasi yang ditargetkan sendiri atau berapa banyak yang terpengaruh. Tetapi dikatakan organisasi itu berada di AS, Inggris, dan Kanada. Tujuannya adalah untuk mencuri informasi dan kekayaan intelektual terkait dengan pengembangan vaksin.

Menurut Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) di Inggris bahwa penilaiannya dibagikan oleh National Security Agency, Cybersecurity, and Infrastructure Security Agency, serta oleh Canadian Security Security Establishment.[fat]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close