GLOBAL

Kompromi dengan Brussels di Hari Penentuan Nasib Inggris

Selasa, 12 Maret 2019

Indonesiaplus.id – Pintu sudah tertutup bagi Inggris untuk berkompromi dengan Brussels terkait konsep “backstop” dalam kesepakatan Brexit. Hal itu disampaikan oleh Ketua negosiator Uni Eropa (UE) Michel Barnier.

Seharusnya, negosiasi seharusnya dilakukan Perdana Menteri Theresa May dengan parlemennya sendiri.

Pada sidang Majelis Rendah Selasa (12/3/2019) untuk menyetujui atau tidak kesepakatan Brexit yang telah  didapatkan PM May dalam perundingan dengan UE sejak 2016.

Hal ini sidang kedua setelah mayoritas anggota parlemen menolak kesepakatan itu dalam voting Januari dan mengutus May melakukan negosiasi ulang dengan UE.

“Kami sudah berunding selama akhir pekan. Sekarang, negosiasi terserah pada pemerintahan Inggris dengan parlemennya,” uajr Barnier di Brussels, Senin (11/3/2019).

Sebelum menerima delegasi Inggris yang belum patah arang mengupayakan perubahan pasal “backstop”.

Perceraian Inggris dengan UE masih dijadwalkan seperti semula, yaitu pada 29 Maret 2019 atau kurang dari tiga pekan.

Namun, jika ada perubahan baru di detik-detik terakhir jelang sidang, parlemen Inggris tentu tak punya alasan  untuk menolaknya. Namun, jika tidak ada perubahan apa pun, May berisiko kalah lagi.

PM May, Kepala Pemerintahan dari Partai Konservatif, hanya bisa berharap seluruh anggota parlemen menyadari pertaruhan besar Inggris jika kesepakatan Brexit ditolak untuk kedua kalinya.

“Dengan dukunglah dan Inggris akan meninggalkan Uni Eropa. Tolaklah dan tak ada seorang pun yang tahu apa bakal terjadi,” tandas May dalam pidatonya pada Jumat (8/3/2019).

“Mungkin saja kita tidak akan keluar dari UE selama berbulan-bulan. Mungkin saja kita keluar tanpa proteksi apa  pun, sebagaimana diberikan dalam kesepakatan itu. Atau mungkin saja kita tidak keluar sama sekali.”

Seiring ancaman revolusi kabinet jika Inggris menempuh jalur Brexit tanpa kesepakatan, May pun terpaksa memberikan persetujuan bahwa parlemen bisa memilih untuk penundaan Brexit.

Jika terjadi penolakan dalam sidang Selasa, parlemen akan memutuskan untuk menunda (atau tidak) rencana Brexit dalam persidangan Rabu dan Kamis (14/3/2019).

May dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker berbicara via telepon pada Minggu (10/3) malam dan setuju
menjalin kontak pada Senin. Namun, tidak ada lanjutan perundingan teknis di internal UE.

Paket kesepakatan Brexit mencakup persetujuan Inggris membayar uang gono-gini kepada UE, hak-hak  ekspatriat, perbatasan Irlandia, dan periode transisi seusai Brexit.

Pokok keberatan parlemen Inggris, sehingga berujung penolakan pada Januari lalu, terletak pada perkara “backstop”. Ini merupakan konsep perbatasan Irlandia Utara (provinsi di Inggris) dengan Republik Irlandia  (anggota UE). Kedua kubu sepakat meniadakan tembok atau pembatas konkret.

Perasalahan muncul ketika UE mendesak Irlandia Utara masuk dalam aturan kepabeanan mereka dan bagian  dari pasar tunggalnya seusai Brexit. Aturan ini berlaku sampai dirumuskannya aturan lain yang disepakati kedua belah pihak.

Parlemen Inggris, termasuk mayoritas dari Partai Konservatif, menolak karena khawatir ide itu akan memerangkap Inggris dan membuat Inggris tunduk pada UE untuk selama-lamanya. Jika itu yang terjadi, Inggris  hanya menjadi negara boneka bagi UE.

Brussels sendiri tidak membuat batasan waktu sampai kapan konsep “backstop” diberlakukan. UE juga menolak permintaan Inggris untuk melakukan negosiasi unilateral dengan setiap negara yang memiliki kepentingan dagang di Irlandia Utara.

Mengutip pendapat Michel Barnier, pasal “backstop” sudah mengandung muatan hukum bahwa sifatnya temporer alias tidak selamanya, jadi tidak diperlukan perubahan lagi.[fat]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close