GLOBAL

Di Hadapan Mahasiswa, Putin: Rusia Harus Jadi Republik Presidensial Kuat

Indonesiaplus.id – Menjelang berakhir masa jabatannya pada 2024, Presiden Rusia Vladimir Putin, 67, menegaskan Rusia harus menjadi republik presidensial yang kuat.

Putin mengusulkan perubahan konstitusi yang akan memberinya wewenang untuk memperpanjang cengkeraman kekuasaan setelah meninggalkan jabatan presiden pada lalu.

Usulan tersebut karena sesuai konstitusi dia tidak dapat maju lagi dalam pemilu presiden. Beberapa isi perubahan itu termasuk mengurangi wewenang presiden dan menambah wewenang Perdana Menteri (PM).

Sebelumnya, Putin mendominasi politik Rusia sebagai presiden atau perdana menteri selama dua dekade terakhir.

Rencana ini memicu spekulasi bahwa Putin mungkin ingin kembali ke posisi PM seperti sebelumnya pada 2008 hingga 2012.

“Rusia harus menjadi republik presidensial yang kuat. Juga, memiliki banyak kelompok etnik, kewarganegaraan, cara hidup, itu praktis mustahil diintegrasikan dalam kerangka kerja republik parlementer,” tandasnya.

Presiden Putin, muncul saat dia bertemu para mahasiswa Rusia di resor Sochi, Laut Hitam. Acara itu ditayangkan di televisi nasional.

Ketika ditanya oleh seorang mahasiswa tentang apakah Rusia harus mempertimbangkan membentuk lembaga transisi seperti di Singapura, Putin menyatakan ide itu tidak tepat bagi Rusia.

Pendiri Singapura modern, Lee Kuan Yew ditunjuk sebagai Menteri Mentor dalam posisi penasehat setelah dia pensiun dari politik aktif, untuk membantu menciptakan stabilitas.

“Dia seorang pria luar biasa. Itu benar, dia, saya tidak tahu, sekitar 30 tahun berkuasa, dan dia mendirikan negara itu, itu benar. Anda ingin saya menjadi Menteri Mentor?” tanyanya.

“Apa yang Anda usulkan, akan merusak lembaga kepresidenan. Saya pikir untuk negara seperti Rusia ini tidak dapat diterapkan,” pungkasnya.[fat]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close