GLOBAL

Bahas Pemerintahan Baru, Taliban dan Hamid Karzai Bertemu di Kabul

Indonesiaplus.id – Usai memasuki Ibu Kota Afghanistan dengan kemenangan, mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai bertemu tokoh penting Taliban Anas Haqqani untuk mulai membahas pembentukan pemerintahan baru.

Diketahui jaringan Haqqani dicap sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat (AS) pada 2012 adalah faksi penting Taliban yang merebut ibu kota Afghanistan, Kabul, pada Ahad.

Sejarah berulang, Taliban kembali berkuasa hampir 20 tahun setelah digulingkan dalam invasi pimpinan AS. Kemudian Taliban mengepung Kabul, Presiden Ashraf Ghani terbang ke luar negeri dan kemudian memposting di Facebook bahwa dia pergi untuk menghindari pertumpahan darah di ibu kota.

Dewan pemerintah Afghanistan terdiri atas Karzai, Pemimpin Hizbut Tahrir Gulbudin Hekmatyar dan Utusan Perdamaian Pemerintahan lama Afghanistan Abdullah Abdullah berusaha menggambar peta jalan masa depan untuk negara itu.

Delegasi yang dipimpin kepala kantor politik Taliban di Qatar, Mullah Abdul Ghani Baradar, tiba di Afghanistan pada Selasa malam, dengan menumpang pesawat militer Qatar yang mendarat di provinsi Kandahar selatan, markas Taliban.

Berdasarkan konferensi pers semalam di Kandahar, petinggi Taliban Mullah Khairullah Khairkhaw mengatakan, “Delegasi akan mengadakan konsultasi dan diskusi dengan para pemimpin lokal dan lainnya tentang pembentukan pemerintah inklusif, ” katanya.

Juru bicara Karzai, Mohammad Yusof Saha mengatakan, bahwa kepada Associated Press (AP) pertemuan awal dengan tim Taliban akan memfasilitasi pembicaraan dengan salah satu Pendiri Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar.

Tidak tersedia keterangan lain tentang pertemuan awal tersebut. Berdasarkan sumber Taliban di Kandahar dengan meminta anonimitas karena dia tidak berwenang berbicara kepada media, mengatakan kepada Arab News bahwa, “Delegasi Taliban diperkirakan melakukan perjalanan ke Kabul di kemudian hari, saat Baradar juga akan bertemu sekelompok orang kuat etnis Afghanistan yang telah menjabat di posisi kunci pemerintah di masa lalu.”

Sebenarnya, pembicaraan penting antara Taliban dan pejabat pemerintah dimulai di tengah peringatan dari kekuatan besar dunia yang menentang pemulihan Imarah Islam oleh Taliban ketika mereka memerintah Afghanistan dari 1996 hingga 2001 dan dituduh menerapkan kebijakan yang keras dan represif.

Juga, Taliban bersikeras mereka berubah dan dalam beberapa hari terakhir bersumpah tidak membalas dendam, menegakkan hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam, memastikan kebebasan media dan menawarkan amnesti bagi pejabat pemerintah di Afghanistan.

Namun tidak seperti rezim Taliban masa lalu yang hidup dalam isolasi global dengan hanya Pakistan, Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi yang mengakui pemerintah mereka, Taliban dalam beberapa bulan terakhir, telah berulang kali mengatakan mereka tidak mengejar “monopoli kekuasaan” dan akan membentuk pemerintahan yang dapat diterima oleh semua kelompok etnis.

Sejak Taliban berkuasa pada Ahad, AS telah membekukan miliaran dolar pendapatan Afghanistan, menghalangi Taliban mengakses uang.

Beberapa negara telah memperingatkan agar tidak menahan bantuan yang sangat dibutuhkan untuk negara yang dilanda perang dan kekurangan uang itu sampai Taliban melaksanakan janjinya untuk pemerintahan yang “menyeluruh”.

Sumber yang dekat dengan Taliban mengatakan kepada Arab News bahwa Baradar kemungkinan besar akan memimpin pemerintahan sementara dan mengambil alih negara.

Seorang pengamat yang berbasis di Kabul, Wahidullah Ghazikhail, mengatakan kepada Arab News bahwa dia tidak “optimis” dari kedua belah pihak dapat segera mencapai kesepakatan.

“Jadi akan ada pertemuan dan diskusi, tetapi tidak akan ada terobosan cepat karena semua pihak akan tawar-menawar karena ini bukan masalah sederhana. Mereka akan berbicara tentang mengubah konstitusi di antara hal-hal lain yang kemungkinan besar akan sangat sulit. Saya tidak terlalu optimis bahwa mereka akan segera mencapai kesepakatan,” katanya.

Selain itu, di tengah ketidakpastian, terdapat ribuan warga Afghanistan telah mencoba melarikan diri dari negara itu dalam beberapa hari terakhir, dengan Taliban mengambil alih bandara internasional Kabul pada Selasa. Sementara itu, terdapat ratusan orang masih berkumpul di luar bandara pada Rabu, menurut laporan media.[mar]

Show More

Related Articles

Back to top button
Close