GLOBAL

Polisi Malaysia Cari Dua WNI Saksi Kunci untuk Ringankan Siti Aisyah

Senin, 3 September 2018

Indonesiaplus.id – Dua perempuan Indonesia dicari Kepolisian Malaysia untuk dijadikan saksi dalam sidang pembunuhan Kim Jong-nam, saudara tiri yang diasingkan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dengan terdakwa perempuan asal Indonesia Siti Aisyah.

Pernyataan polisi, Sabtu (1/9/2018), Raisa Rinda Salma (24) dan Dessy Meyrisinta (33) menginap di Hotel Flamingo, Selangor, Malaysia; mereka berada di kamar yang sama dengan Siti saat polisi melakukan penangkapan pada 16 Februari 2017, atau tiga hari setelah pembunuhan.

Siti mengenal keduanya dengan panggilan Wati (Raisa) dan Mey (Dessy). Raisa dan Dessy tercatat terakhir kali menginap di sebuah hotel di Kota Ampang, di luar Kuala Lumpur, dan hingga sekarang belum diketahui keberadaannya.

Menurut Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal, pihak polisi Malaysia mencari kedua saksi tersebut atas permintaan pengacara Siti. Mereka dibutuhkan untuk meringankan kasus Siti meskipun selama ini Raisa dan Dessy belum pernah dimintai keterangan oleh polisi Malaysia.

“Saksi penting sehingga perlu dihadirkan. Bukan sebagai tersangka. Hak perlindungan mereka sebagai saksi akan dijamin,” ujarnya di Jakarta, Minggu (2/9/2018).

Polisi Malaysia menyerukan siapa pun yang mengetahui keberadaan dua perempuan tersebut atau memiliki informasi tentang keduanya diharapkan melapor kepada pihak berwenang. Tidak ada keterangan bagaimana Raisa dan Dessy bisa membantu mengurai kasus ini di dalam persidangan.

“Justru itulah yang bakalan ditanyakan oleh pengacara Siti di dalam sidang. Mengapa tidak disebut di dalam kesaksian dan mengapa tidak dimintai keterangan? Pengacara meminta keduanya untuk dihadirkan dalam sidang,” tantasnya.

Iqbal, seraya menjanjikan kerja sama penuh dari Pemerintah Indonesia untuk kepentingan penyelidikan. Siti Aisyah dari Indonesia dan perempuan Vietnam Doan Thi Huong dituduh menjadi penyebab tewasnya Kim di bandara Malaysia.

Mereka menyiram Kim, yang sedang menunggu penerbangan ke Macau, dengan air mengandung racun saraf VX pada 13 Februari 2017.

Siti dan Doan mengaku diperalat oleh sekelompok orang berwajah Korea untuk membuat kejutan dengan menyiramkan air pada Kim, seperti umumnya tayangan reality show di televisi.

Mereka langsung ditahan polisi sesaat setelah Kim tewas. Kim, yang eksil selama bertahun-tahun, pernah dianggap sebagai pewaris takhta Korea Utara dan merupakan rival bagi Pemimpin Kim Jong Un.

Perwakilan pengacara dari kedua terdakwa menuding pembunuhan itu didalangi oleh Kim Jong Un, meskipun Pyongyang membantah keras tuduhan tersebut.

Pertengahan Agustus lalu, Pengadilan Tinggi Shah Alam mengatakan, memiliki bukti memadai untuk mendukung tuntutan pembunuhan terhadap kedua terdakwa, dan meminta pengacara dari kedua terdakwa untuk mempersiapkan pembelaan.

Persidangan akan dilanjutkan pada November, dengan Siti (26) dijadwalkan melakukan pembelaan. Sementara persidangan Doan (30) akan digelar pada Januari 2019. Jika terbukti bersalah, keduanya terancam hukuman mati.[Fat]

Related Articles

Back to top button